Green Life Style Versi penuh
Sastra Hijau

Tersebutlah Daun Bandotan

Tersebutlah Daun Bandotan   di jendela, hujan bermain-main dengan angin sebelum membenam diri ke tanah tumbuhkan rumput bandotan di halaman rumah saat kemarau tahun kemarin rumput itu t...

Oleh Irhyl 11 Feb 2024 11:15 3 menit baca

Tersebutlah Daun Bandotan

  di jendela, hujan bermain-main dengan angin sebelum membenam diri ke tanah tumbuhkan rumput bandotan di halaman rumah saat kemarau tahun kemarin rumput itu tidur lelap dalam tanah begitu hujan tiba napasnya lebih panjang dari kemarau kemarin, saat ibu mengupas mangga pisau mengiris jari telunjuknya jari yang sering digunakan menunjukkan aku cara berjalan dengan baik darah mengucur deras wajah ibu pucat kaget ayah sigap berlari ke halaman rumah mengabaikan hujan dipetiknya helai-helai daun bandotan itu meremasnya dengan sangat gemas lalu menempelkan pada jari telunjuk ibu yang berdarah berselang beberapa saat kemudian saat hujan menyisa gerimis darah dari telunjuk ibu berhenti berdarah aku lihat ibu menatap mata ayah mereka bersitatap penuh cinta Kindang, Februari 2024 [irp]

Berkejaran dalam Hujan

  berlari-lari kita berkejaran dalam hujan pagi yang dinginkan kopi di ruang tamu kau jadi pelukan aku jadi kecupan hujan selalu saja memanggil hangat dan semua kenangan kau selalu benci hujan sebab tak mengeringkan jemuran aku selalu menyukai hujan sebab bisa memanja dalam pelukmu selama matahari tak muncul diam-diam aku selalu berdoa hujan saja sepanjang hari doa itu terkabul pada suatu waktu di akhir tahun hujan benar-benar lupa cara berhenti aku dan kau tak beranjak keluar rumah bergelas-gelas kopi kita tandaskan pada kopi yang kesekian gemuruh tetiba datang gunung di sebelah barat rumah longsor kebun kopi tertimbun air sungai membawa lumpur berton-ton menuju kota, menuju laut sejak itu, aku tak pernah lagi berdoa agar hujan sepanjang hari tapi, aku masih selalu suka,kita berkejaran dalam hujan aku berubah kecupan kau menjelma pelukan Kindang, Februari 2024 [irp]

Separuh di Dada

  lalu kau berlari ke dadaku yang kosong. membawa biji-biji semangka aku sedang berbaring. nikmati gerimis jatuh satusatu dari mata ngantukku kubayangkan kemarau datang rampas semua iloro dari mulutku dan kau tetiba datang dada kosongku penuh biji semangka semangka, katamu--penuh dengar air kau ingin tumbuhkan di dada kurusku setelah dadaku penuh biji semangka kau berjalan ke tepi jendela kau pandangi halaman rumah yang penuh rumput teki. melihat belalang berlompatan dan capung beterbangan di udara aku akan ke halaman menangkap capung dan belalang, katamu udara dan lingkungan masih bersih di sini, lanjutmu bagaimana kau tahu, tanyaku capung dan belalang itu buktinya. itu indikator lingkungan. mereka hanya berada pada lingkungan yang tak tercemar, jelasmu sambil melangka ke halaman aku berjalan ke arahmu, mengikutimu biji semangka dari dadaku jatuh berhamburan penuhi lantai kau melotot ke arahku aku punguti biji-biji semangka itu sebagian kutanam di dadaku separuhnya ke tanam di matamu Kindang, 5 Februari 2024 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #bandotan #puisi alam #sastra dan ekologi #daun bandotan