Green Life Style Versi penuh
Sastra Hijau

Tanah Berwajah Sampah

Bernapas Sampah   Kesabaran berdenyut di antara polusi Bertahan pada lecutan musim Menyatu dalam alir darah dan daging Melepas umur jadi hutan lampau yang tandus Dari udara yang dihirup...

Oleh Nona Reni 02 Jul 2023 06:19 2 menit baca

Bernapas Sampah

  Kesabaran berdenyut di antara polusi Bertahan pada lecutan musim Menyatu dalam alir darah dan daging Melepas umur jadi hutan lampau yang tandus Dari udara yang dihirup dan dihela Pada suatu sore sesudah hujan lebat Butiran air di pucuk daun bercerita dengan jujur Sedih apa kiranya sampai matamu berkabut Seorang pemulung menyeberang jalan Ditatap iba oleh orang-orang ngasoh di pelataran Kerut di dahinya tak sebanyak isi dompet Membakar lelap tergelap dari segala impian Bukan, dia bukan hanya pemulung Dia adalah pahlawan Meski kisah-kisahnya selalu bisu Di telan belantara sampah Yang merajut arah jarum jam Dari seribu pertanyaan belaka Dia bernapas dari sampah Yang kau buang dari jendela mobil Sambil menutup hidung Juli 2023 [irp]

Bumbu Menghilang dari Dapur

  Sebelum rahmat mengecup kerut dahimu Korek saja nyeri di rongga benakku Cungkil, lalu bakar jadi abu Kosongkan bola mata dari angan kelabu Dunia yang terlanjur menua dikejar nyawanya sendiri Tentu saja sebelum pensiun Kau harus tahu kemana pulangmu Seperti langit sore berpelangi Atau macet menjelang senja Di dadaku ada ladang tebu subur Tetapi kau gusur demi jalan raya beraspal Desa yang hijau kau paksa tandus Sementara dapur meraung ganas Bumbu-bumbu tak mampu terbeli. Juli 2023 [irp]

Tanah Berwajah Sampah

  Ini tanahmu juga, di mana rumah-rumah berdesakan sepanjang aliran sungai Kampung halaman dari sampah yang dibawa pengendara dari jauh Di lempar begitu saja dari atas jembatan Ini tanahmu juga Tanah yang sering dimukimi banjir Hewan hanyut dan popok bekas pakai Berkejaran menuju laut dan halaman rumah Ini tanahmu juga Tanah yang seenaknya kau jadikan tong sampah Apakah nasib di sini akan terus seperti benda rongsokan itu? Lalu kepada siapa akan kami larikan kutuk? Sedang kalian lebih bodoh dari orang yang buta huruf? Yang takt ahu baca “Buang sampah pada tempatnya” “Di larang membuang sampah di sini” Sampah-sampah terus saja menumpuk Berkejaran di sungai Terus saja dibuang Lahirkan teror Terus saja dianggap jijik Melihai kita menutup hidung Begitu terus, seterusnya Lalu sampah berubah aku, kamu lalu kita Di tanah sendiri yang menumbuhkan kehidupan Juli 2023 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #puisi ekologi #tanah dari sampah #membuang sampah sembarangan #puisi tentang sampah