Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Setandus Apakah Bumi Sekarang?

Kursi Kayu di Ruang Tamu   Kursi dari batang nangka itu masih setia menunggui tamu di ruang tamu Sejak kepala desa baru terpilih Ruang tamu mulai sepi pengunjung Tak ada lagi perundingan...

Oleh Nona Reni 31 Jul 2022 07:30 3 menit baca

Kursi Kayu di Ruang Tamu

  Kursi dari batang nangka itu masih setia menunggui tamu di ruang tamu Sejak kepala desa baru terpilih Ruang tamu mulai sepi pengunjung Tak ada lagi perundingan Tak ada lagi perundungan Tanah di halaman kembali sekeras beton Tiada sesuatu akan bertumbuh, gulma sekalipun. Jadi, jangan menunggu Kecuali pohon nangka yang telah berubah menjadi kursi dan meja Menunggu tamu di ruang tamu Tak ada lagi lelaki berjas dan berkopiah hitam Yang membayangkan dirinya menjadi kepala desa Membaca kalimat yang itu-itu terus—berulang-ulang "Uang adalah kuasa" Di laci meja tentu saja menyimpan rencana dan bencana, Juga rahasia mimpi-mimpi yang hampa. Kini, kursi kayu di ruang tamu berganti sofa Dan pohon nangka menghilang Di kebun kopi leluhur Gerah menusuk dari empat mata arah Juli 2022 [irp]

Setandus Apakah Bumi Sekarang?

  Pagi-pagi sekali kau mengabarkan padaku tentang tujuhbelasan dan cerita tentang rumpun bambu jelang Pilkades Hingga melupakan jadwal kerja yang menguras seluruh pikiranmu. Kau mengajakku menyusuri pematang menuju masa kecil yang kau biarkan pergi bertahun-tahun silam Sambil berkata, berjalan kaki cocok dilakukan saat penghabisan musim hujan, ketika langit berhenti menangis memikirkan padi petani yang mulai hijau Alam telah mengubah pikiranmu untuk tak lagi menjadi politikus Tapi pada perayaan tujuh belas ketika kau diwajibkan menanam pagar bambu di halaman lengkap dengan cat berwarna-warni Kau kembali seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Aku membaca ketidakmampuanmu dalam mengeja bentuk bumi dan bulan Meskipun bunga matahari sudah kau rekahkan di taman bacamu berkali-kali Kau seperti terjebak dalam satu puisi yang berkali-kali dicampakkan ke tempat sampah Bersanding dengan buku-buku tua, dan popok bekas anak kecil. Pada saat-saat itu, sesungguhnya kurasa kita punya kesepian yang sama Sebab berkali-kali kita hanya menemukan bunga-bunga tiruan di bagian yang tak mampu dirampungkan tualang. Setandus itukah Bumi sekarang? Tanyamu. Dan kau tak butuh jawabanku untuk mengerti semua itu Juli 2022 [irp]

Hanya kepada Jembatan

  Kita nyaris menghabiskan sisa usia di sekolah, bertahan untuk tak mencintai siapapun, kecuali dekap ibu bapak yang menunggu waktu panen cengkih datang lebih awal Meski sendiri, kita selalu ingin mewarnai gerbang sekolah dengan perayaan-perayaan kecil yang membuat penontonnya melupakan pendidikan dan penderitaan Ibu bapak guru menyanyikan Indonesia raya, dan kita akan asyik baris berbaris menaikkan bendera merah putih di tiang bambu meskipun dalam lomba kita tak memenangkan apa pun. Kecuali tawa penonton yang riuh rendah. Sungai, gunung, bendera, dan sekolah semua dilukiskan dalam satu kain menggunakan kuas dan cat air Mengisahkan pedesaan yang pandai menyembunyikan perkelahian adik kakak Topi caping dan hamparan padi mengajari kita tentang hal-hal palsu yang terlihat di layar kaca tv Ketika sol sepatu para penguasa berbicara kepada sepasang telinga yang tak mampu menyetujui keinginannya Jadi mari kuberitahu sekarang Hanya jembatan yang mampu menceritakan sungai dengan sebenar-benarnya Maka ketika sekolah melemparkan kau dengan berbagai macam model ijazah Saat kau diam, kau telah kalah Serupa alam yang kalah dari tingkah kita yang serakah. Juli 2022 [irp]
Topik terkait
#puisi #ekologi sastra #puisi lingkungan #perundingan indonesia-eropa #sastra dan lingkungan #nona reni