Tak Ada Sesiapa di Perut Ikan

oleh -57 kali dilihat
 Koalisi NGO Kritik Kebijakan Penangkapan Ikan Terukur versi KKP, Dinilai Sarat Masalah 
Ilustrasi nelayan - Foto: Pixabay
Nona Reni
Pepohonan Hilang di Mata

 

Kau datang berteriak
Di belakangmu kata-kata lengang tak bergerak

Kau membuang jubahmu ke tanah kering gersang
Kau telah lama hidup dan tersesat di rimba kota.
Polusi udara menghuni kepala dan hatimu
Dan kau menyakini telah hidup sekian abad untuk
Menghidupi mimpi-mimpi
Nyatanya, kehidupan tak benar-benar memberimu seorang anak,
maupun seorang istri yang senantiasa menuntun langkah kakimu pulang di malam hari

Rutinitas yang kau temui di dapur ibu
Yang menyimpan rempah nenek moyang
Dan kamar tidur kecil selepas kematian seseorang yang tak mampu kau tolak hadirnya

Kau tak menemukan kata cukup dan pepohonan
Untuk kenyataan yang begitu berengsek
Kau tak mampu melawan untuk menghidupkan dirimu sendiri di tengah sesatnya kenangan
Dan juga kegersangan ketiadaan kayu bakar

KLIK INI:  Rumah Peradaban

Akhirnya kau betul-betul memeluk retak dan luput menanyakan cara jitu untuk bahagia dan membersihkan kepala dan hati dari polusi
Lalu bertetirahlah kau dengan penderitaan yang mengosongkan lahanmu dari dahan ketakutan-ketakutan akan masa mendatang

Pepohonan menghilang dari matamu
Air mengering di depan rumahmu
Hidup berjalan semakin tertatih
Masa depan buram kelabu
Kedatangan panas dan hujan kacau balau

Masa depan semakin masam

Oktober 2022

KLIK INI:  Siang di Hari Kerja
Tak Ada Sesiapa di Perut Ikan

 

Seorang anak bertanya pada ibunya
Tentang nama-nama ikan yang dipancing ayahnya
Juga tentang isi perutnya
Setelah pisau dapur ibunya merobek sirip dan sisiknya

Di perut ikan
Tak ada nabi
Hanya ada sampah plastik dan tahi

Di perut ikan
Tak ada cincin emas
Hanya ada mata kail dan mata cemas.

Di perut ikan
Tak akan kau temui apa-apa lagi anakku
Tak akan ada satu mujizat ataupun seribu wasiat
Tak ada apa-apa selain cemas yang meremas-remas

Oktober 2022

KLIK INI:  Pada Nama Kecilmu
Mengunjungi Tandabaca Mengunjungi Semesta Penuh Isi

 

Kususuri jalan-jalan yang menghubungkan setapakmu dengan tapakku
Di belakangmu hijau mengekor membentangkan dua tiga kekata yang ingin runtuh menjadi puisi

Kuhitung anak tangga hingga beberapa biji
Sebelum pintu gerbangnya menyambut kakiku memasuki gerbang dimensi lain

Di puncak tandabaca
Aku mengeja-eja ingin dan angin
Juga mengejar-ejar hangat pada dinginnya tiang-tiang Binara cinta

Aku menyembunyikan ingatan tepat di balik panggung itu.
Panggung yang kau beri nama panggung ingatan tentang malam yang dikikis habis sepasang kekasih dalam keremangan dan kesunyian
Dan juga pematang sawah yang senantiasa menantang untuk menggadaikan masa depan.

Pohon-pohon cengkeh bersetia
Menunggui tiap kedatangan

2022

KLIK INI:  Aku Ingin Menjengukmu Lagi Nanti Tanpa Ada yang Tersakiti dari Bumi