Surian, Pendatang Baru yang Jadi Primadona

Klikhijau.com - Rumah Rahfiz Alam KP2K itu berdiri di tengah sawah. Bangunannya semi permanen. Dibangun oleh  komunitas pemuda Desa Kindang. Namanya, Komunitas Pelajar dan Pemuda Kindang. Disingkat KP...

Surian, Pendatang Baru yang Jadi Primadona
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Rumah Rahfiz Alam KP2K itu berdiri di tengah sawah. Bangunannya semi permanen. Dibangun oleh  komunitas pemuda Desa Kindang. Namanya, Komunitas Pelajar dan Pemuda Kindang. Disingkat KP2K.

Rumah tahfiz itu mulai berdiri sejak 2020 lalu. Kayu dari bangunan ini di dominasi oleh kayu surian atau suren. Kayu jenis ini memang banyak tumbuh di Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Pohon bernama ilmiah Toona sureni ini sangat mudah ditemukan di kebun warga, baik di kebun cengkeh maupun kopi. Dua komoditi yang menjadi andalan masyarakat Kindang.

“Surian, tiang dan balok induknya,” kata Faisal (33 tahun), ia salah seorang dari pengelola rumah tahfiz tersebut.

[irp]

Di Desa Kindang, pohon surian termasuk pendatang baru. Ia baru masuk ke kampung sebelah barat Bulukumba itu di kisaran tahun 90an.

Pohon surian memiliki pertumbuhan yang sangat cepat dengan masa panen yang cepat pula. Pada usia 5 tahunan, pohon ini sudah dapat dimanfaatkan sebagai tiang rumah atau balok. Namun, masa panen idealnya saat pohon ini berusia 12 hingga 15 tahun.

Sebagaimana sifat kayu pada umumnya, yang usianya semakin tua, maka akan semakin baik dan tahan pula saat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan perabot rumah. Surian juga demikian.

“Awalnya berasal dari Desa Malewang, sekitar tahun 90 an, entah siapa pertama membawanya,” terang Puang Hada’.

Puang Hada (78 tahun), yang berprofesi sebagai petani telah banyak menanam surian. Apalagi pohon ini mudah tumbuh dan dapat beradaptasi dalam semua medan, baik tebing maupun datar.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2