Sepanjang Jalan, Sampah Memandang

Klikhijau.com – Dalam perjalanan dari Kota Makassar ke Bulukumba belum lama ini, lalulintas di jalan raya kian melambat, padat merayap. Jalan-jalan seolah tak kuasa lagi menampung roda gila kehidupan...

Sepanjang Jalan, Sampah Memandang
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Dalam perjalanan dari Kota Makassar ke Bulukumba belum lama ini, lalulintas di jalan raya kian melambat, padat merayap. Jalan-jalan seolah tak kuasa lagi menampung roda gila kehidupan dan setumpuk hasrat kuasa manusia.

Kendaraan bergerak lunglai. Padahal orang-orang terdesak oleh waktu. Pikiran dan desakan pekerjaan menyesaki kepala. Barangkali benar kata penyair Aan Mansyur dalam sajaknya: kepalaku, kantor paling sibuk di dunia.

Engkau tahu? Kepalaku: kantor paling sibuk di dunia. Begitu Aan Mansyur memulai sajaknya itu.

Semakin pelan dan melambat roda kendaraan berputar semakin sibuk sesak pula kepala kita. Sehimpun pertanyaan berkelindan pula layaknya hantu. Pada pikiran yang sibuk dalam kepala, emosi pun berdecak nyaring. Kehidupan di jalan raya membawa kita pada suasana ketidakpastian. Sekelumit kemarahan dan sekeranjang kekecewaan.

Semua bercampur aduk, maka setiap kali kita usai berkendara: rasa lelah begitu menderah tubuh. Padahal, kita tidaklah sedang berlari puluhan kilometer apalagi mengangkat benda-benda berat—kita hanya menyetir kendaraan. Bahkan, duduk manis di ruangan ber-AC, sesekali diiringi musik lagu-lagu kenangan.

Demi meredam emosi saat berkendara dalam kemacetan, saya mencoba melakukan hal sederhana yakni memperluas cakupan pikiran pada hal-hal positif. Resep ini ampuh, rasa kecewa dan marah luruh seketika. Kita nikmati saja perjalanan yang lambat laksana keong ini. Kita abaikan pula espektasi dalam pikiran harus tiba lebih cepat di tempat tujuan. Kita coba abaikan jua durasi berkendara yang lebih lama dan tentu lumayan menjemukan.

Pendeknya kita nikmati saja. Biar lambat asal selamat. Lalu, di tengah pikiran yang berdamai itu, saya mencoba mengalihkannya lagi dengan mengamati satu hal sederhana yakni fenomena sampah di sepanjang jalan. Kali ini, saya, istri dan anak-anak mencoba mengamati fenomena sampah di jalanan layaknya menonton seni pertunjukan.

Tugas kami hanya mengamati dan meresapi makna-makna. Tidak menghakimi seperti sebelum-sebelumnya dimana kami mengutuk dalam hati katakanlah bila melihat ada kendaraan yang buang sampahnya di jalanan. Kali ini, kita amati saja. Kita simak layaknya sebuah pementasan.

Bermula ketika mendekati perbatasan Kota Makassar dan Kota Sungguminasa, sebuah mobil MVP (Multi Purpose Vihicle) melemparkan sampah gelas air kemasan di jalan raya. Kami mencoba mengamatinya saja. Gelas kemasan beterbangan entah kemana. Sesaat setelahnya, kendaraan roda dua juga melakukan hal serupa. Lagi, sampah beterbangan ke antabaranta. Orang-orang itu melakukannya dengan tanpa beban, tiada merasa berdosa.

“Good!” kata anak saya dengan ekspresi yang sedikit mengumpat. Kendaraan yang melambat pun membuat kami leluasa mengamati bagaimana sampah-sampah bergentayangan di pinggir jalan. Jumlahnya tidak terhitung, seolah mewakili tindakan akumulatif ratusan bahkan ribuan orang di jalanan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2