Sepanjang Jalan, Sampah Memandang

Klikhijau.com – Dalam perjalanan dari Kota Makassar ke Bulukumba belum lama ini, lalulintas di jalan raya kian melambat, padat merayap. Jalan-jalan seolah tak kuasa lagi menampung roda gila kehidupan...

Sepanjang Jalan, Sampah Memandang
Bacakan Artikel

Melewati kota Sungguminasa, kemacetan melanda di pasar tumpah. Di sana, sampah-sampah tiada terkira. Dari dekat mulai tampak pula, selokan di pinggir jalan disesaki botol kemasan, Styrofoam dan kawan-kawannya. Organisme dalam selokan tentu menderita hidupnya karena sampah-sampah itu menghalanginya dari akses cahaya matahari.

Kendaraan bergerak lebih laju saat melintas di perbatasan Gowa-Takalar. Namun, suasana sepanjang jalan seolah peristiwa déjà vu. Sampah lagi, lagi-lagi sampah. Orang-orang tampak menikmati buang sana sini. Semua terjadi layaknya sebuah aktivitas biasa di keseharian.

Lalu, saat melewati kota Takalar dan terus mendekap ke Kabupaten Jeneponto, di sinilah penampakan sampah di pinggiran jalan, merajalela. Sampah-sampah berkarung-karung menumpuk di pinggiran jalan. Di setiap ada tanah kosong, di sana pula ada berkarung-karung sampah menumpuk. Bayangkan, bila sepanjang jalan adalah area persawahan, sepanjang itupula ada tumpukan sampah dijejal layaknya jajanan.

Mau marah atau mengumpat? Jangan! Kali ini kita sedang mengamati saja layaknya menonton seni pertunjukan yang topiknya kebetulan tentang sampah dan perilaku kita yang barbar pada bumi. Kami mengamati saja dan tak ingin menghakimi. Tentu agar kepala kita tak dirundung beban berat dan tersandung pikiran macam-macam. Kali, ini kepala kita hanya mengamati dan menikmati.

Sepanjang jalan dari Takalar ke Jeneponto, sampah bermuara di pinggiran jalan. Dari penampakannya, sampah-sampah itu terbungkus plastik dan karung. Berwarna-warni tentunya. Rongsokan itu diletakkan secara sengaja. Tujuannya tentu agar ditaruh menjauh dari pemukiman si-empunya.

Di suatu titik mendekati perbatasan Jeneponto-Bantaeng, laju kendaraan melambat. Hegemoni sampah di pinggiran jalan semakin meraja. Kali ini baunya membahana. Yah, jelaslah begitu karena sampah itu berisi segala rupa dan semakin menggunung. Terlebih karena hujan baru saja membasahi tanah.

Kaca mobil kami tutup agar baunya tidak membuat mulut kami mengumpat, marah. Sekali lagi, kita nikmati saja.

Sepanjang jalan, sampah memandang. Andai sampah itu hidup, ia akan melihat kita dengan kesedihan mendalam. Hatinya rengkah: betapa manusia teramatlah barbar.

Saya, jadi membayangkan sampah itu punya mata dan telinga. Sampai di sini, saya coba tersenyum sahaja. Lagu daerah Makassar yang dilantungkan penyanyi andalan Alifi lumayan menenangkan hati. Sekali lagi, nikmati saja.

Tiada terasa hari sudah malam. Senja yang indah terlewat begitu saja kali ini. Perjalanan berjam-jam yang melelahkan lumayan tidak terasa. Kami tiba di kampung Batukaropa, di bagian Selatan Sulawesi Selatan. Tak ada rasa lelah berlebihan. Kesannya lebih rileks seolah baru kembali dari menonton film kesukaan di bioskop.

Kami mengangkat barang-barang ke kamar. Makan malam agak sedikit terlambat, maka lahapnya menggairahkan. Kepalaku, kantor paling sibuk di dunia. Sajak Aan Mansyur menyela kembali ingatan saya: Juga perihal-perihal lain yang sepele namun sungguh rumit buat dijelaskan—demikian potongan sajak Aan berikutnya.

Yah, rasanya cukup mengena kali ini. Sampah mungkin memang tampak sepele, tetapi begitu rumitnya kita selesaikan. Sepanjang jalan, sampah memandang kita MANUSIA sama seperti dirinya: SAMPAH!

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2