Sekolah Alam Benteng Senggaang, Membangun Harapan di Desa Terisolir

Klikhijau.com - Siang itu, Rabu 25 Januari 2023 saya dan teman-teman relawan Baznas Tanggap Bencana (BTB) Bulukumba berangkat dengan penuh semangat dan riang gembira. Kami menuju satu tempat yang ada...

Sekolah Alam Benteng Senggaang, Membangun Harapan di Desa Terisolir
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Siang itu, Rabu 25 Januari 2023 saya dan teman-teman relawan Baznas Tanggap Bencana (BTB) Bulukumba berangkat dengan penuh semangat dan riang gembira. Kami menuju satu tempat yang ada di Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba. Benteng Senggaang, begitu orang menyebutnya.

Kami menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dari kota Bulukumba sampai di Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang itu. Agenda telah dipersiapkan selama berada di sana. Pun bahan bangunan telah siap dibawa.

Setelah tiba di ujung aspal sebelum memasuki jalan desa, kami disambut warga lokal di sana. Ditambah tumpukan papan dan balok yang siap diangkut menuju puncak Benteng Senggaang.

Dengan semangat membara, teman-teman relawan mempersiapkan tenaga dan bahunya untuk memikul bahan-bahan tersebut. Setelah menyantap sarapan kue bolu seadanya.

Setelah 50 meter melewati ujung aspal, pemandangan mulai terlihat eksotis. Jurang di sebelah kiri membelakan mata dengan jajaran pohon dan keindahan alam di desa itu. Ditambah suasana dan aroma khas dari alam terbuka mejadi pil semangat dan energi baru untuk para relawan.

Meski agak terjal dan kaki terasa semakin berat diayungkan, kami tetap menyusuri jalan yang kian menanjak itu.

Di pertengahan jalan, rasanya semua personil sudah sangat tertatih. Haus, lapar, dan terlintas rasa ingin menyerah untuk kembali ke ujung aspal. Namun niat telah kuat, pun tekat telah bulat.

Jiwa kami semakin mantap ingin sampai puncak. Mengingat di sana, ada warga dan anak-anak Sekolah Alam yang hendak kami temui. Toh, ini sudah pertengahan jalan. Sayang jika kembali dan menyerah.

Semakin melangkah, rasa-rasanya akses jalannya semakin berat. Kemiringannya sekitar 70 derajat. Ditambah beban papan dan balok yang kami pikul, semakin memicu adrenalin. Tulang kaki terasa kaku ditambah keringat yang bercucuran.

Setelah mendaki sejauh kurang lebih 2 kilo, tibalah kami dipuncak. Napas mulai sedikit lega. Terlihat rumah-rumah masyarakat desa Benteng Senggaang dengan model panggung bersusun agak berjarak antara rumah ke rumah yang lain.


Terdapat 30 rumah di lingkungan ini, ditambah satu masjid yang nampak baru saja selesai dibangun.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2