Secuil Kisah di Balik Ekspose Kegiatan Pejabat Fungsional Kehutanan

Klikhijau.com - Siang itu, saya membawakan sebuah materi hasil karya bersama kami. Sebuah buku. Buku yang menyajikan keindahan bulu-bulu burung yang warna-warni. Menghias halaman demi halaman. Bukunya...

Secuil Kisah di Balik Ekspose Kegiatan Pejabat Fungsional Kehutanan
Bacakan Artikel

Membacakan biodata ringkas untuk kedua pemateri di sesi terakhir itu.

Muhammad Yusuf, Penyuluh Kehutanan KPH Cenrana menyambar mic setalah dipersilahkan. Saya menikmati sesi ini. Duduk manis di meja depan, mendengarkan kisah perjalanan Yusuf menjadi seorang pengayom. Pengayom warga yang bermukim di sekitar kawasan hutan di wilayah kerjanya.

Yusuf bercerita panjang tentang awal proses berkarirnya, mulai dari Sulawesi Tenggara hingga ke Sulawesi Selatan. Penyuluh senior ini nampak semangat berbagi pengalaman kepada pejabat fungsional yang hadir. Ia seolah hendak menularkan semangatnya pada generasi yang saat ini juga sedang berjuang. Berjuang melestarikan hutan dan lingkungan dengan cara masing-masing. Karena setiap orang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda.

"Menjadi penyuluh itu seperti mendorong mobil mogok. Kita harus sabar, telaten, menumpahkan segala kekuatan agar warga binaan dalam bentuk kelompok tani hutan mau bergerak. Termotivasi untuk berinovasi," terang Yusuf menyimpulkan pengalamannya selama ini.

Yusuf menurut saya adalah satu dari orang lapangan yang memiliki dedikasi tinggi pada tugasnya. Orang-orang memiliki tekad untuk melihat orang lain berhasil. Baginya keberhasilan kelompoknya berkarya adalah satu kebanggaan tersendiri baginya.

"Namun jangan sampai juga, kelompok binaan kita bersifat 'kacang lupa pada kulitnya', karena itu sebagai penyuluh kita juga harus pintar-pintar tampil sebagai bagian dari mereka," tambahnya.

Karena menurutnya, antara anggota kelompok dan pendampingannya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Pada bagian akhir sesinya ia menampilkan beragam piagam penghargaannya selama mengabdi hingga 40 tahun.

Saya kira, ia melewati batas waktu menyampaikan materi. Moderator nampaknya mengampuninya, turut menikmati sajian Yusuf yang menginspirasi.

Terdiri dari lima orang

Kini giliran saya menyampaikan materi. Moderator sempat mengingatkan bahwa waktu saya maksimal 15 menit, sebelum saya berdiri. Berdiri meraih mic di meja terpisah. Saya mengiyakan, mengingat setengah jam kemudian waktu salat Dzuhur tiba.

Karena itu saya menyampaikan poin-poin penting saja. Menyampaikan sekilas proses pembuatan buku, termasuk tata waktu penyusunan. Setidaknya prosesnya sekitar setahun, mulai dari munculnya ide hingga proses cetak. Hampir semua tahapan dikerjakan tim penulis buku yang terdiri dari lima orang.

Mengumpulkan bahan foto burung, menulis narasi, melayout, mengusulkan ISBN, hingga mengurus proses cetak. Penulis buku burung endemik Sulawesi adalah Kamajaya Shagir, Ramli, Muasril, dan saya yang berprofesi sebagai Pengendali Ekosistem Hutan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Hanya Hendra yang menjabat sebagai pegawai pemerintah non pegawai negeri.

Saya hanya menekankan perlunya kolaborasi untuk membuat suatu karya. Mengingat tak banyak orang memiliki keahlian segala aspek. Kita terkadang membutuhkan orang lain di suatu bidang yang rasanya kita kurang bisa. Saling melengkapi.

Selain itu, perlu menurunkan ego saat bekerjasama. Selalu mengutamakan mufakat untuk memutuskan sesuatu tentang karya bersama untuk setiap pilihan keputusan terbaik.

Dari depan kelas, saya memerhatikan tak banyak peserta yang tertarik perihal buku ini. Nampak dari mimiknya.

Namun saya berharap ada dua tiga di antara mereka bisa berjejak di bawah sadarnya. Dengan harapan ke depan di antara mereka akan terbesit asa untuk berkarya.

Karena itu, saya kemudian menyudahi presentasinya dengan menampilkan sekilas tampakkan buku melalui gulungan video pendek.

Pada akhir sesi, panitia kemudian membagikan lima buku burung kami kepada peserta. Membagikan kepada mereka yang berminat dan juga menjadi hadiah bagi mereka yang aktif selama proses diseminasi. Ya.. kegiatan hari itu bertajuk: "Diseminasi dan Ekspose Kegiatan Pejabat Fungsional LHK Sulawesi Selatan".

Menghadirkan lima narasumber dari beberapa beberapa pejabat fungsional lingkup Kementerian Kehutanan di Sulawesi Selatan. Menghadirkan wakil dari guru Sekolah Menengah Kehutanan Negeri Makassar, Widyaiswara, polisi kehutanan, penyuluh kehutanan dan pengendali ekosistem hutan.

"Saya ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan fungsional yang hari ini meyempakan hadir pada acara bersama kita. Semoga ke depan kita bisa menyelenggarakan lagi kegiatan serupa ataupun kegiatan lain untuk menghidupkan organisasi profesi ini," pungkas Sudirman Sultan, Ketua Forum Fungsional LHK Sulawesi Selatan, sembari menutup kegiatan hari itu.

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2