Sebatang Pohon Janji
Sudah lama dia susah tidur. Itu terlihat dari kantong matanya yang tebal. Ada lingkaran hitam di kelopaknya. Matanya terlihat lelah. Sejak kepergian suaminya, dia lupa cara tidur lelap bagaimana. Pa...
Sudah lama dia susah tidur. Itu terlihat dari kantong matanya yang tebal. Ada lingkaran hitam di kelopaknya. Matanya terlihat lelah. Sejak kepergian suaminya, dia lupa cara tidur lelap bagaimana. Pagi itu ia membuka jendela kamarnya dengan ketergesaan yang sangat. Tubuhnya kikuk, langkahnya gontai.
Setelah jendela terbuka, dia saksikan cahaya pagi mengelus daun cengkeh di depan jendela. Dia pejamkan mata, merasai udara pagi yang sejuk kemudian membuka matanya perlahan. Dia mencari titik embun di daun cengkeh. Cahaya pagi berusaha sampai ke matanya, tapi tidak benar-benar sampai. Hanya berkilau saja menerpa apa yang dilaluinya.
Orang-orang mulai sibuk menuju kebunnya. Di kampungnya, Mattirodeceng, telah jadi ritual pagi bagi warga meminum kopi tanpa gula. Setelah itu, warga akan ke kebun. Dia bisa menebak, jika hari ini dia kembali telat membuka jendela kamarnya. Ritual minum kopi telah usai. Sejak setahun lalu, tak ada lagi ritual minum kopi baginya. Kehidupannya telah berhenti.
“Bangunlah, Nia!” teriak ibunya mengagetkannya dari lamunan. Tanpa menyahut dia keluar kamar dengan wajah kusut. Baju tidur bermotif bunga yang telah tiga malam belum diganti juga kusut.
“Cobalah mandi pagi!” saran ibunya.
Lagi, dia tak menyahut. Dia menuju kamar mandi untuk cuci muka, kemudian kembali ke kamarnya. Menatapi pohon cengkeh yang baru berumur dua tahun dari jendela dan telah berbuah lebih cepat dari seharusnya. Pohon cengkeh itu dia tanam bersama Suardi di hari pernikahannya sebagai bukti cinta dan kenangan.
“Ini akan jadi bukti cinta kita yang kuat.” Kata-kata Suardi itu selalu saja terngiang. Itu gombalan paling romantis yang pernah didengar dari lelaki yang dicintainya tersebut. Dia kembali membaringkan tubuhnya, menerawang ke masa ketika jatuh cinta kepada Suardi. Usianya baru beranjak 19 tahun saat itu dibuat kocar kacir oleh ketampanan Suardi. Selain tampan, Suardi juga cerdas, itu terbukti dengan menjadi calon termuda pada pemilihan kepala desa beberapa tahun lalu. Suardi menempati urutan kedua suara terbanyak dari lima calon. Dia hanya kalah lima suara dari Puang Hamasing, pamannya sendiri
Hania menyekah air matanya. Bayangan suaminya terbayang tunai. Dia ingat ketika pacaran dulu, mereka ke Apparalang berboncengan motor. Dia merasakan ketulusan Suardi mencintai dan melindunginya.
“Aku akan melamarmu, Nia,” ujar Suardi ketika mereka sedang menikmati tarian gelombang Apparalang.
“Serius?” Hania menatap Suardi dengan pandangan tak percaya.
Suardi hanya tersenyum.
“Serius?” tanya Hania lagi
Lagi, suardi hanya tersenyum.
“Ayo kita pulang, sebentar lagi malam!”
Seminggu kemudian, Suardi membuktikan ucapannya. Lamarannnya benar-benar datang. Hania tak percaya, dia serupa sedang terbang. Dia memenangkan persaingan dengan beberapa perempuan yang menaruh hati kepada Suardi.
Lalu setengah bulan kemudian, pesta pernikahan dihelat dengan meriah. Meski tak ada electone. Di hari pernikahannya, Suardi melakukan hal tak terduga dan baru dalam masyarakatnya. Suardi membawa bibit cengkeh lengkap dengan cangkul. Setelah ijab kabul usai, dengan pakaian pengantin mereka tak langsung bersanding. Suardi mengajak Hania menuju samping rumahnya, lalu menanam pohon cengkeh tersebut.
Apa yang dilakukan Suardi sontak jadi perbincangan warga. Apapun itu, jika hal tak lumrah maka akan mengagetkan, meskipun mengandung kebaikan. Ritual foto bersama tak dilakukan di pelaminan, tapi di dekat pohon cengkeh yang baru ditanam.
“Mungkin pesan yang ingin disampaikan Suardi agar kita menjaga lingkungan dan bersyukur sebagai petani,” ujar Puang Hamasing di sela foto bersama.
“Anak muda sekarang appaumba masagala ‘menciptakan sesuatu yang langka” ujar Puang Ranang sinis, diamini beberapa warga.