Jendela Hujan

oleh -68 kali dilihat
Ilustrasi hujan
Ilustrasi hujan/foto-Lampungpro.com

Hujan mengiris ribang. Menetak sekujur tubuh. Geligis lahirkan cemas.

Ditatapnya hujan lebih lama dari biasanya. Ia sedang mencari celahnya—sia-sia saja, menunggunya reda juga percuma. Sementara malam hampir tiba. Resah biak di wajahnya yang pucat ditetak gigil. Ia singgah bernaung, tapi hanya sekejap saja lalu menerabas kembali hujan

Tetesan hujan serasa jarum menerpa wajah.  Dan hanya sepersekian menit,  baju dan celana dalamnya kuyup.  Namun, tekad untuk sampai ke rumah lebih gelitar. Bayangan seseorang mengerumuni matanya—bayangan neneknya yang  renta.

Pikirannya sedang dirimbuni tanya, bagaimana jika neneknya jatuh dari tempat tidur karena berusaha mengemasi barang-barang agar tak terjamah banjir, atau bagaimana jika buku-bukunya terendam  lalu kisah di dalamnya menghilang. Sungguh ia tak tega jika itu terjadi. Maka, tak ada bernaung lebih lama. Ia harus lacciri ‘cepat’ sampai ke rumah.

KLIK INI:  Pembakar Kisah di Danniari

Hujan mengganas. Ia  dilibas—remuk

Mestinya lebih awal ia sampai agar bisa menyaksikan air merasuk lembut ke dalam rumah dan menggenanginya.  Ya, harusnya begitu, tapi perjalanan selalu punya aral yang kerap tak terduga. di perjalanan pulang dari pesta pernikahan  kerabat  jelang malam itu. Hujan tumpah dan ban motornya bocor. Ia mendorong motor cukup jauh sebelum menemukan penambal ban. Gigil meramu derita sedemikian memikat, gigil  tembus ke tulang. Tapi ia tak berhenti.

Aral itu mengandaskan inginnya tiba di rumah lebih cepat. Setelah ban motornya ditambal, ia tak bisa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Jalan mulai diserang air, macet membuatnya mengelus dada. Tapi ia harus menerabas semua tantangan itu,  tak dihirau  rammusu ‘demam’ yang akan menetak sekujur tubuhnya.  Suara klakson bersahutan sampai ke telinganya mengalahkan suara hujan. Semua orang seperti dirinya,  ingin sampai ke rumahnya dengan cepat.

Hujan merintih. Riciknya gaduh. Ia kuyup. Ia melaju

Di rumah tua itu ia hanya tinggal berdua dengan neneknya yang   renta. Kedua orangtuanya lupa pulang dari rantau. Ia telah berjanji akan menjaga neneknya melebih apa pun, bahkan melebihi dirinya sendiri.

Ia suka jika hujan, neneknya akan bercerita banyak hal. Ia ingin menyaksikan air masuk ke rumahnya dengan lembut sambil mendengar neneknya  ma’royong. Royong adalah musik entik Makassar yang mengandung nilai moral. Ketika kecil neneknya biasa ma’royong mengantarnya pada tidur.

Hujan menganga. Perihkan luka. Setubuhi rindu. Ia mencarimu dalam hujan

“Aku ada dalam hujan.” Tetiba saja sebuah suara merasuki kokleanya. Suara  itu nyaring kalahkan ricik hujan, lalu ia mengingatmu, Miala. Dulu kamu kerap mengajaknya menikmati hujan di malam hari. Katamu, hujan lebih romantis jika malam. Hanya saja ia selalu abai. Dan malam ini ia nikmati tanpamu—penyesalan tanak di matanya.   Ia mencari sisi romantis dalam hujan, juga  mencari kebenaran perkataanmu tentang hujan. Ia juga mencarimu, Miala.

KLIK Pilihan