Resep Masakan dari Sungai

Di tengah kemelut ketidak-stabilan ekonomi yang melilit leher rumah tangganya. Wardi memutuskan melangkah ke sungai. Di sungai itu jika tak mancing, ia akan menyisir hingga hulu sungai dan menyetru...

Resep Masakan dari Sungai
Bacakan Artikel

Kini, badannya semakin kurus, tak terawat dan kumal. Tak ada lagi yang tertarik padanya apalagi ia mempunyai empat anak yang hanya selisih satu-satu tahun.

Dengan tangan bergetar, dibukanya buku itu. Resep pertama Ayam Cabai Hijau.

"Kapan aku terakhir kali makan ayam?"

Pertanyaan itu muncul di kepala Hawalia. Rasanya sudah bertahun-tahun ia tak makan ayam. Uang yang diberi oleh Wardi tak pernah cukup untuk menebus harga daging ayam murah sekalipun.

Ingatan tentang rasa daging dan kuah ayam yang kental semakin menggila di kepalanya. Hampir-hampir Hawalia meneteskan air liurnya.

"Astgafirullah, lagi puasa." Gumamnya.

[irp]

Tapi, matanya tak bisa lepas dari buku masakan itu. Dibacanya lagi, resep ayam goreng balado, kari ayam, rendang bola daging, gulai sotong, kambing cincang. Lagi-lagi, Hawalia mengingat kapan terakhir kali ia memakan masakan enak itu.

Ia hitung-hitung lagi usia pernikahannya dengan Wardi. Tujuh tahun. Ya tujuh tahun sudah ia tidak pernah lagi menikmati semua itu. Tujuh tahun lalu terakhir ia mencicipi masakan itu ketika resepsi pernikahannya. Lepas itu, Wardi membawanya keluar dari rumah orang tuanya dan memilih mengontrak.

Sebagai pasangan muda, Wardi tak punya keterampilan apa-apa. Hanya satu yang ia kuasai. Keterampilan di atas ranjang. Hal itu pula yang membuat Hawalia tiap tahun harus rela ngeden di depan bidan desa.

"Tutup kandungan saja. Anakmu loh sudah empat." Begitu tawar bidan desa waktu ia melahirkan anak bungsunya.

"Tidak, kata Pak Ustadz banyak anak banyak rejeki." Kata Wardi.

Tanpa berkata-kata lagi, bidan desa itu meninggalkan ruangan. Mungkin bidan itu tak habis pikir kenapa usulannya ditolak.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: