Pisang Peppe, Kuliner Khas Sulsel yang Menari di Lidah

oleh -1.836 kali dilihat
Pisang Peppe, Makanan Khas Sulsel yang Menari di Lidah
Pisang peppe/foto-makassarkuliner
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Kuliner khas Sulawesi Selatan (Sulsel) cukup banyak. Pisang peppe adalah salah satunya. Meski makanan ini kalah populer dari pisang epe.

Kuliner khas ini paling pas jika dinikmati dalam suasana hujan atau saat malam mengantar gigil. Pisang peppe bisa menjadi pengganti nasi, sebab mampu mengenyangkan perut yang keroncongan.

Keberadaanya tak bisa pula dipandang remeh—banyak yang menyukainya. Pisang peppe memiliki cita rasa tersendiri yang bikin ketagihan bagi penikmatnya.

Pisang peppe, biasa pula dikenal dengan sanggara peppe. Sanggara jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti goreng.

KLIK INI:  Konsumsi Sayur Organik, Rasakan 7 Manfaat Terbaiknya

Sanggara peppe adalah pisang yang digoreng. Inilah yang membedakan antara pisang epe dengan pisang peppe. Jika pisang epe dibakar maka pisang peppe digoreng.

Hal yang membedakan lainnya adalah jenis pisangnya, pisang epe biasanya digunakan adalah pisang setengah matang atau mengkal. Pisang peppe bahan bakunya lebih bagus jika   pisang mentah.

Semua jenis pisang sebenarnya bisa dibuat sanggara peppe. Yang khas dari jenis kuliner ini adalah sambalnya.

Pisang peppe tanpa sambal akan terasa sangat hambar. Nah, sambalnya inilah yang membuat lidah terasa menari jika dimakan, jadi bukan pisangnya, tapi sambalnya. Semakin pedas maka  tariannya akan semakin aduhai.

Bagi penyuka makanan pedas, pisang peppe bisa jadi pilihan yang menarik. Bukan hanya pengisi dikala sedang sepi, memakan pisang peppe bisa membuat pula kenyang.

KLIK INI:  Sebab Pemilu Telah Berakhir, Saatnya Membincangkan Makanan Khas Sulsel; Bassang
Cara membuatnya

Membuat pisang peppe atau sanggara peppe cukup mudah. Bahannya pun tak rumit, juga tak perlu mengeluarkan banyak modal.

Ada teman saya, dulu pernah berjualan pisang peppe, namanya Lisa. Ia akui jika modal membuat pisang peppe tak terlalu menguras dompet. Bahan yang paling banyak memakan biaya hanyalah pisang dan minyak goreng.

“Modal 30 ribu sudah cukup,” akunya.

Selain modalnya ‘ringan’ membuatnya juga cukup mengupas pisang mentah, lalu goreng. Setelah pisangnya matang, angkat dari penggorengan—tiriskan sejenak lalu ‘peppe’. Peppe bisa diartikan dengan pukul.

Hanya cara memukul pisang peppe tidak seperti memukul pada umumnya. Pisang yang telah matang biasanya hanya dijepit saja atau ditindis dengan benda tertentu hingga berbentuk pipih.  yang awalnya lonjong membulat harus berubah jadi datar.

Setelah pisang bersalin wajah berbentuk pipih, pisang tersebut kembali digoreng hingga berwarna kemerah-merahan atau matang betul dan keras. Efek yang ingin didapat dari cara menggoreng ini adalah agar pisang jika dimakan seperti kripik—kriuk-kriuk.

Setelah matang, siapkanlah sambalnya. Sebab seperti yang saya tadi, pisang peppe ini lebih nikmat jika disajikan dengan sambal.

KLIK INI:  Jamur Kancing, Familiar sebagai Bahan Makanan Segudang Manfaat

Sambalnya ini biasanya terbuat dari tomat, terasi, cabai kecil, serta garam. Semua bahan dihaluskan menjadi satu. Pisang peppe sendiri biasanya banyak dibuat di rumah sendiri karena warung yang membuat pisang peppe ini masih sangat jarang.

Hemm, kembali ke Lisa. Lisa biasanya membuat pisang peppe sepulang mengajar. Ia memanfaatkan kosannya untuk berjualan. Cara menjualnya pun dengan memanfaatkan media sosial.

“Keuntungannya lumayan, bisa mencapai 200-300 ratus ribu perhari,” katanya.

Pisang peppe, merupakan kuliner yang tak terlalu populer. Lumayan sulit ditemukan, sebab tak ada lokasi khusus untuk menjualnya. Berbeda dengan pisang epe yang mudah ditemukan di Pantai Losari Makassar.

Dengan kurangnya penjual kuliner khas pisang peppe, bisa jadi peluang bagi pelaku usaha untuk membuat jajanan ini agar lebih dikenal. Agar lebih banyak orang yang bergoyang lidahnya menikmati sensasi pisang peppe yang bikin rindu.

KLIK INI:  Buroncong, Kue Pinggiran yang Dirindukan