Meresapi Sensasi Malam Bersama Nasi yang Tak Pernah Tidur

oleh -316 kali dilihat
Songkolo bagadang
Songkolo bagadang, makanan khas Sulsel/Foto-Cookpad
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Malam telah beranjak ke dini hari ketika saya pulang dari warung kopi (Warkop). Perut saya terasa keroncongan ingin diisi.

Namun, saya tak perlu khawatir tak ada makanan, sebab di sekitaran Sungguminasa, Gowa. Banyak penjual makanan hingga subuh.

Namun, malam itu saya memutuskan mencari songkolo bagadang. Tak jauh dari traffic light (lampu merah) Jalan Malino. Tepatnya jalan menuju jembatan kembar Gowa, ada seorang perempuan yang telah beranjak senja sering menjual songkolo bagadang.

Ketika saya sampai, ibu tersebut sedang sibuk melayani pembeli yang menghampiri sepuluh orang. Saya menunggu cukup lama hingga pesanan saya selesai.

KLIK INI:  Tedong Pallubasa, Hidangan Bersejarah yang Menggoyang Lidah

“Jualannya setiap malam, Bu? Tanya saya.
“Iya, jika tak ada halangan yang penting,” jawabnya
“Dari jam berapa?
“Tergantung, biasanya jam sepuluh sampai jam empat subuh,” jawabnya lagi.

Ia menyerahkan pesanan saya, saya ucapkan terima kasih. Obrolan kami harus berhenti waktu itu, Kamis, 20 Februari 2020 karena ia harusmelayani pembeli. Bahkan saya belum sempat menanyakan namanya.

Bagadang bukan begadang

Songkolo bagadang, ingat, bagadang, bukan begadang. Kata bagadang sebenarnya berasal dari bahasa Indonesia, begadang.

Tapi, sepertinya agar makanan itu terdengar khas Makassar maka namanya pun jadi songkolo bagadang.

Songkolo adalah nasi beras ketan yang dikukus. Untuk bahan seperti yang dijual ibu yang saya ceritakan tadi, yang digunakan adalah beras ketan hitam.

KLIK INI:  Pisang Peppe, Kuliner Khas Sulsel yang Menari di Lidah

Campuran lauknya adalah ikan asin, bajabu atau serundeng, sambal, dan jika ingin tambahan telur asin.

Songkolo bagadang, memang disiapkan sebagai makanan tengah malam, iya namanya juga bagadang. Songgokolo bagadang adalah nasi yang menolak tidur, hahahaha.

Songkolo merupakan bahasa Makassar, sedangkan bahasa Bugisnya adalah sokko, merupakan sajian nasi ketan hitam atau putih yang ditabur dengan serundeng atau parutan kepala sangrai.

Membuat songkolo bagadang cukup mudah, seperti mengukus ketan biasa. Ketan hitam atau putih dikukus dengan santan.

Songkolo bisa mencukupi kebutuhan karbohidrat, lemak dan protein. Umumnya songkolo bagadang dibungkus dengan daun pisang dan diikat dengan karet dan hal itu tidak berlaku bagi perempuan yang saya kisahkan di atas. Ia menggunakan pembungkus dari kertas minyak warna cokelat.

Jika kamu berkunjung ke Sungguminasa atau Makassar dan lapar tengah malam. Atau sekadar ingin menikmati songkolo bagadang. Kamu bisa mengunjungi jalan Usman Salengke, tak jauh dari traffic light Jl. Malino dari arah Makassar.

KLIK INI:  Memanen Kenikmatan Barobbo' di Alam Terbuka