Cangkang Lobster dan Kepiting Bersalin Wajah Jadi Baterai di Tangan Ilmuwan

oleh -17 kali dilihat
Benihnya Kembali Diekspor, Ini Fakta Lobster dan Siklus Hidupnya
Benihnya Kembali Diekspor, Ini Fakta Lobster dan Siklus Hidupnya/foto- Ist

Klikhijau.com – Jika kamu pernah menonton film laskar pelangi. Kamu akan menemukan seorang anak kecil yang suka menenteng radio. Untuk mendengarkan suara dari radionya, anak kecil itu harus menggunakan baterai.

Apabila daya baterainya tak mampu lagi “menghadirkan” suara, si anak kecil yang bernama Mahar itu akan menjemurnya di atap seng rumahnya.

Menjemur baterai yang telah soak “kalah” banyak dilakoni orang dulu. Mereka beranggapan jika menjemurnya di bawah terik matahari, baterai itu akan akan kembali terisi energi.

Meski masih jadi perdebatan, tapi terbukti cara itu cukup ampuh untuk mengisi ulang baterai. Baterai memang menjadi sangat penting ketika perangkat elektronik mulai berkembang.

KLIK INI:  Pengelolaan Sampah di ASEAN Berkiblat ke Surabaya?

Baterai yang telah tak terpakai, umumnya akan dibuang begitu saja, entah itu baterai handphone, jam dinding, laptop hingga aki.

Padahal baterai adalah jenis sampah yang tidak bisa dibuang sembarangan, sebab termasuk limbah B3 atau Bahan Berbahaya dan Beracun yang  mengandung logam berat seperti timbal, merkuri, mangan, nikel, kadmium,  dan lithium. Bahan-bahan tersebut dapat mencemari lingkungan dan berakibat negatif bagi kesehatan manusia, satwa, dan tanaman.

Karenanya untuk menyiasati sampah baterai yang bisa menimbulkan bahaya itu, perlu adalanya alternatif bahan baterai yang berpihak pada lingkungan.

Baterai ramah lingkungan

Beruntunglah, seperti di lansirdari Earth.com, saat ini para peneliti di University of Maryland telah mengembangkan baterai lebih ramah lingkungan yang menggunakan produk yang ditemukan di kulit krustasea untuk menyimpan energi .

Baterai baru lebih ramah lingkungan, hemat energi, dan terjangkau dibandingkan dengan baterai tradisional.

KLIK INI:  Mengenal Pestisida Hayati, Kelebihan dan Kekurangannya

Para ilmuwan sekarang mendorong agar produk tersebut diadopsi dalam produksi komersial baterai. Mereka mengatakan bahwa menggunakan produk ini diperlukan karena meningkatnya pergerakan menuju mobil listrik dan energi hijau pada umumnya.

“Kami pikir baik biodegradabilitas material, atau dampak lingkungan, dan kinerja baterai penting untuk suatu produk, yang berpotensi untuk dikomersialkan,” kata Liangbing Hu, direktur Pusat Inovasi Material dan pemimpin Universitas Maryland yang merupakan penulis studi.

Dunia dengan cepat bertransisi menuju energi hijau dan baterai berada di pusat langkah ini. Para ilmuwan mengatakan bahwa perlu untuk membuat baterai ramah lingkungan juga.

Sangat berbahaya

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Matter bahwa baterai tradisional bisa sangat berbahaya bagi lingkungan. Misalnya, produk seperti lithium yang digunakan dalam baterai dapat bertahan di lingkungan selama ratusan atau ribuan tahun.

KLIK INI:  Rusia Kini Memiliki Tiga Warna Salju, Dua di Antaranya Disebabkan Hal Ini

Crustacea seperti udang, lobster dan kepiting memiliki kerangka keras yang sel-selnya mengandung zat yang dikenal sebagai kitin. Ini adalah jenis polisakarida yang membuat cangkang keras dan tahan.

Menariknya, senyawa ini tersedia secara luas di alam dan sering dibuang sebagai limbah industri makanan . Para ilmuwan percaya bahwa produk tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja baterai. Peneliti lebih lanjut telah mencoba untuk mencari tahu kegunaan lain seperti perawatan anti-inflamasi dan pembalut luka, antara lain.

Para peneliti mampu menghasilkan baterai yang lebih murah dan lebih terbarukan dengan menggabungkan elektrolit kitosan dengan seng. Mereka datang dengan baterai yang 99,7 persen hemat energi bahkan setelah 1000 siklus baterai. Itu sekitar 400 jam.

Selanjutnya, mereka menemukan bahwa baterai tidak mudah terbakar dan akan rusak di tanah dalam lima bulan. Dengan sisa seng yang dapat didaur ulang untuk loop tertutup.

“Desain baterai baru yang ramah lingkungan , murah dan menghasilkan kapasitas debit tinggi, adalah salah satu item penting yang harus dikembangkan di tahun-tahun mendatang,” kata Antonio J. Fernández Romero, profesor ilmu material untuk energi produksi di Universitas Cartagena di Spanyol (earth.com)

Temuan para peneliti itu, tentu menjadi kabar baik bagi lingkungan yang patut diapresiasi.

KLIK INI:  Tentang Jejak Karbon Online dan 5 Cara Menguranginya