Waspada, Sulsel Masuk 10 Besar Tertinggi Kasus DBD

Klikhijau.com - Guyuran hujan masih belum sepenuhnya berhenti di wilayah Indonesia. Hampir setiap hari tetetasnya terus datang menjenguk. Guyuran hujan bukan hanya menyebabkan banjir, tapi juga membua...

Waspada, Sulsel Masuk 10 Besar Tertinggi Kasus DBD
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Redaktur Klikhijau.com, aktif menulis buku, puisi dan menyukai kopi ditengah kesibukannya mengaktivasi taman baca masyarakat.

Klikhijau.com - Guyuran hujan masih belum sepenuhnya berhenti di wilayah Indonesia. Hampir setiap hari tetetasnya terus datang menjenguk. Guyuran hujan bukan hanya menyebabkan banjir, tapi juga membuat nyamuk berkembangbiak dengan cepat. Salah satunya adalah nyamuk aedes aegypti. Nyamuk pembawa virus dengue, penyebab demam berdarah dengue (DBD).

Perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti menyebabkan kasus demam berdarah mengalami peningkatan. Bahkan sejumlah daerah menyatakannya sebagai kejadian luar biasa (KLB). Melansir dari Nationalgeographic.co.id, Kamis 31 Januari 2019 Selawesi Selatan (Sulse) masuk 10 besar kasus DBD tertinggi di Indonesia berdasarkan data sementara yang dihimpun Kementerian Kesehatan—awal tahun hingga 29 Januari 2019.

Ini daftar lengkapnya 10 provinsi dengan kasus DBD tertinggi dalam sebulan terakhir, Jawa Timur 2.657 kasus, 2. Jawa Barat 2.008 kasus,  Nusa Tenggara Timur 1.169 kasus,  Jawa Tengah 1.027 kasus, Sulawesi Utara 980 kasus,  Lampung 827 kasus, DKI Jakarta 613 kasus,  Sulawesi Selatan 503 kasus,  Kalimantan Timur 465 kasus, dan  Sumatra Selatan 353 kasus


KLIK INI: Benarkah Lavender dan Sereh Dapat Mencegah DBD?

KLIK INI: Daun Kapulaga, Musuh Paling Ditakuti Diabetes Mellitus


Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan walaupun Jawa Timur kembali menjadi provinsi dengan kasus DBD tertinggi, tetapi tingkat kasus wilayah di dalamnya berbeda.

"Tahun 2018 itu Kota Malang tertinggi, tetapi saat ini Kabupaten Kediri," ungkap Siti Nadia dilansir dari Nationalgeographic.co.id.

Terkait dengan kasus DBD, penyakit ini pun sudah menyebabkan 133 kematian; Jawa Timur 47 orang, NTT 14 orang, Sulawesi Utara 13 orang, Jawa Barat 11 orang, Jawa Tengah 9 orang, dan Kalimantan Tengah 9 orang. DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk. Demam berdarah DBD dulu disebut penyakit “break-bone” karena kadang menyebabkan nyeri sendi dan otot di mana tulang terasa retak.

Demam berdarah ringan menyebabkan demam tinggi, ruam, dan nyeri otot dan sendi. Demam berdarah yang parah, atau juga dikenal sebagai dengue hemorrhagic fever, dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba (shock), dan kematian.


Tanda-tanda dan gejala DBD

Ada tiga jenis demam dengue seperti dilansir di Hellosehat.com, yakni demam berdarah klasik, dengue hemorrhagic fever, dan dengue shock syndrome. Masing-masing memiliki gejala yang berbeda.

Gejala dari demam berdarah klasik:


  • Demam tinggi, hingga 40 derajat C

  • Sakit kepala parah

  • Nyeri pada retro-orbital (bagian belakang mata)

  • Nyeri otot dan sendi parah

  • Mual dan muntah

  • Ruam


Ruam mungkin muncul di seluruh tubuh 3 sampai 4 hari setelah demam, kemudian berkurang setelah 1 hingga 2 hari. Anda mungkin mengalami ruam kedua beberapa hari kemudian.

Gejala dari dengue hemorrhagic fever meliputi semua gejala dari demam berdarah klasik, ditambah:


  • Kerusakan pada pembuluh darah dan getah bening

  • Perdarahan dari hidung, gusi, atau di bawah kulit, menyebabkan memar berwarna keunguan
    Jenis penyakit dengue ini dapat menyebabkan kematian.


Gejala dari dengue shock syndrome, jenis penyakit dengue yang paling parah, meliputi semua gejala demam berdarah klasik dan dengue hemorrhagic fever, ditambah:

  • Kebocoran di luar pembuluh darah

  •  Perdarahan parah

  • Shock (tekanan darah sangat rendah)


Jenis penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak (dan beberapa orang dewasa) yang mengalami infeksi dengue kedua kalinya. Jenis penyakit ini sering kali fatal, terutama pada anak-anak dan dewasa muda.

Jika Anda mengalami gejala seperti disebutkan di atas, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk pencegahan (ir)