Dokter Mawar, Menerima Bayaran Pasien dengan Sampah

Klikhijau.com - Pada umumnya profesi dokter berurusan dengan pasien dan rumah sakit. Profesi ini biasanya diasosiasikan “eksklusif”, karena berpenghasilan tinggi dan sangat terhormat. Namun, apa ja...

Dokter Mawar, Menerima Bayaran Pasien dengan Sampah
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Pada umumnya profesi dokter berurusan dengan pasien dan rumah sakit. Profesi ini biasanya diasosiasikan “eksklusif”, karena berpenghasilan tinggi dan sangat terhormat.

Namun, apa jadinya bila ada seorang dokter yang separuh aktivitasnya juga terjung ke ruang sosial dan mengurusi sampah? Ini tentu sangat istimewa, langka, dan layak diapresiasi.

Beberapa tahun silam, saya berkesempatan mengunjungi rumah yang sekaligus sebagai klinik dan pusat Bank Sampah milik sang dokter fenomenal.

Tepatnya di Desa Baruga Kecamatan Uepai Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Namanya dokter Mawarti Arumi (53), lebih akrab disapa dengan dokter Mawar.

Sebuah pagi di hari kamis, jarum jam masih menunjuk pukul 07.30.  Perempuan kelahiran Bandung itu sedang sibuk melayani pengunjung yang mayoritas ibu rumah tangga dan masyarakat yang  sudah lanjut usia (lansia).

Ada lebih seratusan lansia sedang berbaris rapi dengan tawa riang gembira. Dokter Mawar menyambut kami dengan senyum penuh karisma.

Kami juga sempat diperkenalkan dengan beberapa lansia yang turut menjemput. Suasana penuh bahagia.

Beberapa menit setelah kami tiba, dokter Mawar memutar sebuah lagu. Senam dimulai. Mari joget!

Kami ikut menari diantara para lansia, bergoyang. Kegembiraan terpancar dari mata mereka, seolah usianya belumlah menua.

“Begitulah kebiasaan kami di sini setiap pekan bersama para lansia. Kami menyemangati mereka agar dapat menikmati sisa-sisa hidup dengan kebahagiaan,” jelas dokter Mawar.

Selain berolahraga, para lansia juga bisa berbagi cerita dan pengalaman satu sama lain.

“Yang datang bukan hanya lansia di sekitar klinik ini, tapi ada beberapa dari desa dan kecamatan lain. Jumlahnya sudah hampir tiga ratusan,” kata Nenek Surti (70).

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: