Sehabis Hujan

Kabut Malino   kabut malino menepi di mata. ada ricik hujan, juga desir angin antarkan gigil kita tunggui hujan berubah jadi pelukan. gigil jadi bara api, memanggang luka nganga di ma...

Sehabis Hujan
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Kabut Malino


 

kabut malino menepi di mata.
ada ricik hujan, juga desir angin antarkan gigil

kita tunggui hujan berubah jadi pelukan.
gigil jadi bara api, memanggang luka nganga

di malino, desir angin adalah gemuruh rindu.
riuh berkejaran dalam diri sendiri sebagai air terjun

"gemuruh adalah guru," katamu.
"tuntun kita menerka antara cahaya atau bahaya," lanjutmu

aku tatapi matamu, cari cahaya atau bahaya di sana.
tak ada apa-apa selain kabut tipis yang berubah jadi mainan anak-anak

"kita adalah pelayat bagi diri sendiri," katamu lagi.

kutatapi kembali matamu, cari diriku di sana sebagai anak kecil yang kehilangan mainan.
tak ada apa, tak ada siapa. sepi mengental

"malino itu rumah bagi tualang untuk pulang sebagai tulang punggung," kataku
kau menatap mataku

"rumah adalah matamu," katamu.
kita lalu berkejaran dalam kabut, jadi sepasang tali sepatu.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2