Pohon Langit di Borong Karamaka

Borong Karamaka benar-benar sunyi dan tenang, jauh dari gemuruh peradaban manusia. Pepohonan yang menjulang tinggi berbisik dalam diam, angin yang menelusuri dedaunan seolah membawa rahasia dari masa...

Pohon Langit di Borong Karamaka
Bacakan Artikel

Fira merasa dirinya tersedot ke dalam jaring energi itu. Cahaya-cahaya yang memancar dari akar-akar pohon membawanya ke dalam dimensi lain, sebuah dimensi yang lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan. Dimensi kelima, pikirnya. Sebuah dimensi yang melampaui ruang dan waktu, tempat peradaban maju seperti Lemuria dan Atlantis mungkin masih ada, tersembunyi dari dunia manusia.

Ia melihat kota-kota peradaban maju yang tersembunyi di balik tabir dimensi kelima. Pohon-pohon besar yang serupa dengan Pohon Langit berdiri di pusat kota-kota itu, menjadi pusat dari energi yang mengalir ke seluruh alam semesta. Di sekelilingnya, Fira melihat sosok-sosok yang bekerja di sekitar pohon-pohon itu, menyesuaikan perangkat energi yang tak terlihat, seolah-olah mereka sedang berkomunikasi dengan kecerdasan yang lebih tinggi.

Namun, ada sesuatu yang salah. Sebuah kesalahan besar terjadi di masa lalu, yang menyebabkan kehancuran peradaban-peradaban itu. Dan kini, pohon-pohon ini, yang masih berdiri tegak di dunia manusia, menyimpan rahasia yang telah lama terlupakan—rahasia yang bisa membawa kebangkitan atau kehancuran.

Ketika penglihatannya memudar, Fira menemukan dirinya kembali di hadapan Pohon Langit. Monitor di tangannya terus berdengung, sinyal-sinyal semakin intens. Cahaya dari akar-akar pohon semakin terang, dan tanah di sekitarnya mulai bergetar. Ia merasa ada sesuatu yang menariknya ke dalam, sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan. Akar-akar pohon itu melingkari kakinya, perlahan menariknya ke dalam tanah.

Suara halus namun kuat berbicara dalam benaknya:

"Kau adalah kunci. Gerbang ke dimensi kelima telah terbuka. Keseimbangan antara dunia-dunia ada di tanganmu."

Fira mencoba melawan, tetapi tubuhnya terasa lemah. Energi dari pohon itu terlalu kuat. Akar-akar semakin erat melilit tubuhnya, menariknya ke bawah, menyatu dengan tanah. Dan saat ia terserap ke dalam kegelapan, Fira menyadari kebenaran yang mengejutkan—ia bukan hanya menemukan rahasia ini, tetapi ia adalah bagian dari rencana yang lebih besar. Keseimbangan kosmos telah terganggu, dan ia adalah penghubung antara dimensi-dimensi yang tak terlihat.

Di antara akar-akar yang melintasi ruang dan waktu, dari bumi hingga dimensi kelima, Fira kini menjadi bagian dari jaringan kosmik yang menjaga keseimbangan dan mengguncang alam semesta.

Getaran itu semakin kuat, dan seketika, Fira merasakan sesuatu menariknya, mencabutnya dari kenyataan. Dunia di sekelilingnya berputar cepat, cahaya dan bayangan berbaur menjadi satu, dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, Fira terlempar ke dalam jurang waktu yang tak terjangkau.


Ketika Fira membuka matanya, ia tidak lagi berada di hutan Borong Karamaka. Ia melihat dirinya berada di tengah kota kuno yang tertutup oleh kabut misterius. Kota ini bukanlah milik dunia modern—jalan-jalannya dipenuhi dengan arsitektur yang belum pernah ia lihat, dan di pusatnya berdiri pohon-pohon besar seperti Pohon Langit. Orang-orang di sekitarnya berjalan tanpa suara, dengan pakaian yang tampak berasal dari zaman yang hilang. Lemuria, pikir Fira. Ini adalah peradaban kuno yang selama ini dianggap mitos. Pohon-pohon yang ada di kota ini tampak seperti pengatur energi, menyebarkan kekuatan ke seluruh penjuru kota.

Namun, sebelum ia bisa memahami lebih jauh, dunianya kembali berputar. Kali ini, ia terlempar ke masa depan, ke masa di mana gedung-gedung menjulang tinggi seperti menara dari logam dan kaca, tetapi di tengah kota itu masih berdiri pohon-pohon besar yang tampak tidak tersentuh oleh waktu. Pohon-pohon itu, seperti di Lemuria, adalah pusat energi. Teknologi masa depan ini tampaknya bergantung pada kekuatan yang berasal dari pohon-pohon kuno.

Setiap kali ia mencoba memahami di mana ia berada, Fira terlempar lagi, dan lagi—melintasi batas-batas waktu, melihat masa depan dan masa lalu berbaur dalam kilasan yang membingungkan. Pohon-pohon ini adalah penghubung, bukan hanya antara bumi dan langit, tetapi antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mereka adalah pintu gerbang, jaring yang menjaga keseimbangan kosmik.

Dengan satu hentakan yang kuat, Fira terlempar kembali. Ketika ia membuka matanya, ia menemukan dirinya tidak lagi berada di hutan. Ia berada di dalam laboratorium observatorium Yale. Di sekelilingnya, peralatan ilmiah berdering pelan, seperti tidak ada yang berubah. Namun, Fira tahu ada sesuatu yang berbeda. Ia merasakan waktu dan ruang telah melingkar di sekelilingnya, seolah-olah ia telah tersentuh oleh kekuatan yang lebih besar dari apa pun yang bisa dijelaskan oleh sains.

Monitor di mejanya menunjukkan sinyal-sinyal yang pernah ia tangkap dari hutan Borong Karamaka, tetapi kini sinyal itu tampak berbeda—lebih teratur, lebih jelas. Ada pola di sana, pola yang kini ia pahami. Pohon-pohon itu, Pohon Langit, dan pohon-pohon kuno lainnya di seluruh dunia, bukan hanya bagian dari alam; mereka adalah simpul dalam jaringan yang melintasi dimensi waktu dan ruang.

Fira menatap layar di hadapannya dengan perasaan yang campur aduk antara kekaguman dan ketakutan. Apa yang ia alami di hutan itu? Apakah semua hanya ilusi, atau ia benar-benar telah terlempar ke dimensi waktu yang berbeda? Monitor terus berdengung, dan sinyal itu masih ada, memanggilnya kembali—seolah-olah petualangannya di luar dimensi baru saja dimulai. Ia mengecek jam di handphone. Benar, ia terlempar ke sehari sebelum memutuskan berangkat ke Indonesia, menemui Pohon Langit.

Di antara waktu yang terlipat dan ruang yang mengembang, Fira menemukan dirinya tidak lagi terikat oleh batas-batas dunia biasa. Ia adalah saksi dari kekuatan yang tak bisa dijelaskan, sebuah kunci yang membuka pintu menuju masa lalu dan masa depan, yang tersimpan di antara akar-akar pohon yang menjulang dari bumi hingga langit.*

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2