Penampakan Sampah di Kanal Kota, Inikah Wajah Kita?

Klikhijau.com – Penampakan sampah menumpuk di kanal seolah sudah pemandangan biasa bagi warga Kota Makassar. Suatu sore yang hujan (30/11/2022) saat melintas di Jalan Muhammad Tahir, persis di bawah s...

Penampakan Sampah di Kanal Kota, Inikah Wajah Kita?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Penampakan sampah menumpuk di kanal seolah sudah pemandangan biasa bagi warga Kota Makassar. Suatu sore yang hujan (30/11/2022) saat melintas di Jalan Muhammad Tahir, persis di bawah sebuah jembatan, tumpukan sampah memadati permukaan air laksana ikan-ikan mati.

Pemandangan ini memantik saya untuk berhenti sejenak dan berniat memotretnya dari jarak dekat. Jebret, berulang-ulang kali dari segala sisi. Seorang warga diam-diam mengamati saya dari samping. Entah apa yang aneh?

Mungkin karena tingkah saya yang tetiba berhenti dan memotret kubangan sampah, terkesan misterius. Atau karena penasaran hendak tahu siapa saya yang begitu serius mengambil gambar.

Saya tidak perduli, tetap saja saya berdiri di sana dengan saksama. Memotret dan mengamati, meski hujan masih rintik tipis. Ragam jenis sampah terlihat saling berpelukan tak berdaya. Botol dan gelas plastik juga sampah saset tampaknya merajai.

Tak ketinggalan Styrofoam dan kantong-kantong plastik segala warna setia menemani. Sampah-sampah ini jelas datang dari segala penjuru. Dari orang-orang yang buang sampah sembarangan, baik yang iseng hingga yang mengira sampah boleh diceburkan di selokan atau di kanal.

[caption id="attachment_26964" align="alignnone" width="751"]sampah kanal Sampah di kanal bilangan Jalan Muhammad Tahir Kota Makassar - Foto: Ist[/caption]

Bayangkan bila sampah ini tidak sempat disedot ke darat, tentulah akan berakhir di lautan. Bayangkan pula bila setiap hari ada berton-ton sampah yang berakhir sirna di kanal. Betapa sedih membayangkan cara kerja kita menjadi manusia yang melupakan tanggungjawabnya pada sampah yang dihasilkan bukan?

Ada dua hal serius yang menggelitik mata hati. Pertama, soal pikiran kita yang ego dan barbar . Kedua, perihal kesadaran sosial (social awareness) kita yang begitu rendah terhadap lingkungan.

Pada dua hal ini menggambarkan suatu sinyal adanya derajat ego yang teramat mandarah daging dalam diri. Potret sampah yang menumpuk di kanal ini boleh jadi akumulasi dari ke-ego-an kita. Kita yang tidak ingin pusing dengan orang lain, dengan bumi satu-satunya dan kita yang tiada peduli dengan masa depan.

Penampakan sampah di kanal yang saya potret ini hanyalah sebagian kecil dari sampah yang terbuang bebas ke lingkungan. Di selokan dekat rumah kita dan di sepanjang kanal-kanal yang mengitari kota, juga di tanah-tanah kosong, sampah-sampah membahana. Menyesaki perairan dan setiap harinya berujung di lautan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2