Hari Ibu, Perayaan Kasih Perempuan terhadap Ketahanan Pangan Bahari dari TN Takabonerate

Klikhijau.com - Media social hari ini riuh dengan ucapan selamat. Foto-foto lama diunggah ulang, kata-kata puitis tentang pelukan ibu membanjiri lini masa. Namun, bagi saya, peringatan Hari Ibu setiap...

Hari Ibu, Perayaan Kasih Perempuan terhadap Ketahanan Pangan Bahari dari TN Takabonerate
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Media social hari ini riuh dengan ucapan selamat. Foto-foto lama diunggah ulang, kata-kata puitis tentang pelukan ibu membanjiri lini masa. Namun, bagi saya, peringatan Hari Ibu setiap 22 Desember bukan sekadar seremoni digital. Ingatan saya justru melayang jauh ke sebuah titik di jantung Laut Flores,Pulau Jinato, Taman Nasional Taka Bonerate (TNTB).

Di sana, di tengah gugusan atol terbesar ketiga di dunia, perayaan kasih perempuan tidak hanya mewujud dalam belaian, tetapi dalam piring-piring nasi berisi ikan segar yang menjamin napas sebuah generasi.

Dua malam menginap di rumah warga saat perhelatan Festival Taka Bonerate 2023 membuka mata saya tentang sebuah realitas penting, perempuan adalah manajer risiko pangan bahari yang sesungguhnya.

Jika para lelaki adalah petualang yang menjemput rezeki di kedalaman samudera, maka para ibu di Pulau Jinato dan pulau sekitar adalah kurator yang memastikan hasil laut tersebut memiliki nilai hidup.

Setiap waktu makan, saya disuguhi keajaiban kuliner bahari, mulai dari ikan bumbu kuning, cumi segar, hingga berbagai jenis biota laut lainnya. Semuanya segar, semuanya nikmat.

Namun, di balik kenikmatan itu, ada mata rantai kerja yang panjang. Para perempuan pesisir inilah yang melakukan pemilahan hasil tangkapan, menentukan mana yang untuk dijual guna memutar roda ekonomi keluarga, dan mana yang harus masuk ke dapur untuk memenuhi gizi anak-anak mereka. Di tangan mereka, hasil laut bukan sekadar komoditas, melainkan jaminan ketahanan pangan.

Perempuan Nelayan Penjaga Kedaulatan Pangan Bahari

Hal tersebut dipertegas oleh kak Asri, begitu saya akrab menyapanya, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Balai Taman Nasional Taka Bonerate, yang kesehariannya beraktivitas di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Ia seolah menegaskan bahwa peran ibu acap kali ditempatkan pada area blind spot.

“Memang peran ibu-ibu sering tak terlihat, padahal Perempuan di TN Taka Bonerate adalah aktor utama dalam rantai nilai pangan bahari, kerena ibu-ibu ini terlibat dalam pengolahan hasil tangkapan; memilih, mengolah, mengawetkan (pengharaman) dan memasarkan ikan tangkapan bapak-bapak atau suaminya,” tegasnya menguraikan kesaksiannya.

Kajian mengenai peran gender dalam pengelolaan sumber daya laut sering kali menempatkan perempuan di posisi domestik. Padahal, yang saya saksikan di Jinato adalah bentuk kedaulatan. Ibu-ibu di kawasan Taman Nasional memiliki insting pelestarian yang kuat. Mereka adalah "penjaga gerbang" konsumsi.

“Ibu- ibu juga terlibat pengelolaan sumber daya keluarganya, memastikan nutrisi keluarga terpenuhi dari laut sekitarnya. Jadi Kasih dan dedikasi mereka dalam mengelolah SDL secara tradisional seringkali sejalan dengan prinsip keberlanjutan (mengambil secukupnya) yang berjalan dengan beriringan dengan pemberdayaa Perempuan,” ulas Asri menerangkan peran ibu yang tak tersorot.

Dengan memilih metode pengolahan yang tepat, mereka memastikan tidak ada protein laut yang terbuang percuma (zero waste). Kasih seorang ibu di pesisir Taka Bonerate adalah kasih yang visioner; mereka sadar bahwa jika laut tidak dijaga, jika ikan-ikan kecil tidak dibiarkan tumbuh, maka meja makan di masa depan akan kosong.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2