Petani Milenial Kindang, Jawab Tantangan Musim Paceklik dengan Tomat

Klikhijau.com - Musim paceklik, jadi musim paling meresahkan bagi masyarakat Desa Kindang. Musim ini berlangsung kurang lebih lima bulan. Dimulai Desember hingga April. Terkadang menyeberang ke Mei....

Petani Milenial Kindang, Jawab Tantangan Musim Paceklik dengan Tomat
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Musim paceklik, jadi musim paling meresahkan bagi masyarakat Desa Kindang. Musim ini berlangsung kurang lebih lima bulan. Dimulai Desember hingga April. Terkadang menyeberang ke Mei.

Penyebab musim paceklik di bulan-bulan itu, bukan karena kemarau atau musim hujan yang datang mengutak-atik kehidupan atau gagal panen. Bukan. Tapi, perekonomian (pendapatan) masyarakat  sedang terjun bebas. Sebebas-bebasnya.

Para tetua kampung, menamai musim ini dengan istilah yang lebih cekam, lebih suram; tanre pattallassang ‘tidak ada sumber kehidupan’.

Masalah ini telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Di masa lalu, musim paceklik juga ditandai dengan bosi allo bangngi ‘hujan siang dan malam’. Jadinya, jangankan untuk ke kebun. Keluar ke halaman rumah saja agak susah.

Hanya belakangan ini, mungkin karena pengaruh perubahan iklim, intensitas hujan mulai berkurang.

Meski begitu, musim paceklik tidak mereda. Musim ini oleh masyarakat dinamai pula bulan cipi’. Cipi’ dulunya merujuk pada bulan terjepit, yakni bulan yang dijepit antara dua khutbah hari raya, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Bulan di antara kedua hari raya itu, dinamai bulan cipi’.

Namun, penamaan itu sepertinya mengalami pergeseran—yang kemudian merujuk pada musim paceklik. Di mana sumber kehidupan telah lewat dan juga belum sampai. Jadi, saat menyebut bulan cipi', arahnya adalah bulan-bulan paceklik itu. Kata cipi'  juga digunakan untuk menunjukan kondisi keuangan yang seret.

Tapi, musim paceklik atau bulan cipi’ ini hanya berlaku bagi petani. Pada profesi lain, dampaknya tidak terlalu terasa. Sayangnya, masyarakat Kindang mayoritas berprofesi sebagai petani. Jadinya, hampir semua orang mengalaminya. Perputaran roda ekonomi bergerak siput. Lambat.

Fenomena bulan cipi’ ini memang menarik sekaligus miris. Dulu hingga sekarang, masyarakat Kindang menggantungkan hidupnya pada dua komoditas andalan, yakni kopi dan cengkeh.

Ketika memasuki musim paceklik, kedua komoditas itu telah melewati masa panen. Dan sangat besar kemungkinannya, uang hasil penjualannya pun telah habis.


Beruntung belakangan, banyak sumber yang bisa jadi penghasilan, misalnya tire atau porang yang kini mulai memiliki nilai ekonomi, daun cengkeh juga mulai berwarna uang.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2