Pemuda akan Hadapi Krisis Iklim Lebih Ekstrem Dibanding Generasi Lebih Tua

Klikhijau.com - Penelitian baru mengungkapkan bahwa generasi yang lahir pada tahun 2020 diprediksi akan mengalami kondisi iklim dua hingga tujuh kali lebih ekstrem daripada generasi yang lahir sebelum...

Pemuda akan Hadapi Krisis Iklim Lebih Ekstrem Dibanding Generasi Lebih Tua
Bacakan Artikel

Hal inilah yang menjadi landasan gerakan keadilan iklim antargenerasi dan menjadi faktor utama dilakukannya protes para aktivis dan pemuda baru-baru ini.

Oleh karenanya, studi ini, salah satunya juga bertujuan untuk memperluas “cara pandang” dengan “perspektif ilmiah” di balik argumen keadilan iklim antargenerasi yang diperjuangkan kini.

Peneliti mengungkapkan studi tersebut menggunakan “kerangka kerja baru” untuk menilik paparan peristiwa menyoal krisis iklim dengan melihat umur seseorang ketimbang membandingkan dua periode waktu yang terpisah.

“Dalam ilmu iklim, kami condong membandingkan dua periode waktu mengenai skenario saat ini dan masa depan, atau dunia 1,5 derajat celcius dan 2 derajat celcius.

Namun, dalam penelitian ini, kami mempertimbangkan perspektif seseorang yang lahir pada saat tertentu, menjalani umur tertentu, dan mengalami iklim ekstrem sepanjang hidup mereka,” tutur Prof Wim Thiery.

Mereka melanjutkan, “metode kami menyatukan kumpulan data yang belum dipertimbangkan—simulasi peristiwa ekstrem dan lintasan pemanasan di satu sisi, dan data demografis seperti harapan hidup dan kepadatan penduduk di sisi lain.”

Selain itu, studi tersebut juga menemukan bahwa perubahan historis dalam dampak iklim sedikit atau bahkan tidak berpengaruh pada paparan di atas usia 55-an terhadap iklim ekstrem.

Pasalnya, perubahan ini terjadi pada kelompok yang lebih muda, yang akan mulai mengalami dampak dalam beberapa tahun dan dekade mendatang.

Sebagai contoh, dalam skenario pemanasan 3 derajat celcius, seorang anak yang berusia enam tahun pada tahun 2020 akan mengalami dua kali lebih banyak kebakaran hutan dan siklon tropis, tiga kali lebih banyak banjir sungai, empat kali lebih banyak gagal panen, lima kali lipat.

Mereka akan merasakan lebih banyak kekeringan dan 36 kali lebih banyak gelombang panas selama masa hidup mereka ketimbang anak yang berusia enam tahun yang tinggal di iklim praindustri.

Hasil penelitian ini masih belum sepenuhnya menangkap paparan ekstrem terkait iklim yang dihadapi kaum muda saat ini secara komprehensif. Hasil studi itu mencantumkan beberapa alasan kalau temuannya dianggapnya masih “konservatif”.

Misal, penelitian ini menangkap perubahan jumlah kejadian, bukan durasi atau intensitasnya. Lebih lanjut, ia tak mempertimbangkan dampak yang lebih besar dari gabungan dampak krisis iklim yang ekstrem. Mereka luput mempertimbangkan jikalau ternyata semisal ada lebih dari satu kejadian ekstrem bisa saja menyerang  pada saat yang sama atau berturut-turut.

Bagaimanapun temuan ilmiah ini cukup jadi pengingat dan tamparan keras atas konsekuensi yang harus ditanggung generasi selanjutnya mengenai krisis iklim. Pasca mendapati kenyataan memilukan ini, diharapkan semua elemen masyarakat  untuk turut andil dan mendesak pemimpin yang mempunyai kuasa untuk aware dengan bertindak cepat mengurangi laju krisis iklim.

Sebagai penutup, menyitir perkataan Greta Thunberg dalam Youth4Climate Summit di Italia, “Membangun kembali, blah blah blah. Ekonomi hijau, blah blah blah. Nol bersih pada tahun 2050, blah blah blah. Iklim netral, blah blah blah. Hanya ini yang kami dengar dari apa yang pemimpin kami ucapkan. Kata-kata yang terdengar hebat, tetapi sejauh ini tidak menghasilkan tindakan.”

*Sumber utama: Thiery et al (2021), Intergenerational inequities in exposure to climate extremes, Science, doi: 10.1126/science.abi7339

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2