Para Pembunuh Bumi

Hujan sejak sore masih menyisakan cuaca basah. Apparalang sudah ditutup sejak magrib tadi, tapi lampu pijarnya masih dibiarkan tetap menyala, meremangi meja dan bangku panjang. Angin berembus begitu k...

Para Pembunuh Bumi
Bacakan Artikel

"Sejak kapan tulisan kau anggap sebagai senjata, Non?โ€ tanyamu tanpa menoleh ke arahku. Kau hanya sibuk memeriksa tenda berwarna laut itu.

"Ya, sejak tulisan kau sempitkan jadi pemuja tubuh perempuan kasmaran dan patah hati yang membuatku takluk padamu, pada cintamu,"

"Yang kau katakan itu tidak objektif! Kau tidak lihat akar masalahnya. Siapa yang membacking dan bertanggung jawab jika aku dipidanakan nantinya? Kau ingin pernikahan kita tertunda untuk kesekian kali?"

"Menunda pernikahan bukan soal rumit. Menunda kepunahan manusia dan beragam spesies itu baru hal yang rumit," balasku sengit.

"Heleh tidak usah sok tahu, Non. Aku tulis atau tidak pun tidak ada manfaatnya, tulisan itu tidak akanย  berarti banyak. Apalagi di atas meja kekuasaan."

"Tapi setidaknya tanggung jawab moralmu kau tunaikan," tegasku.

[irp]

"Jiwa kepedulianmu itu betul-betul bisa menjadikan kau intelek kritis. Yang bisa menguak borok-borok di balik peristiwa," balasmu.

"Bukankah mengkhawatirkan nasibย  generasi kita lebih baik dari mengkhawatirkan diri sendiri yangย  barangkali sudah cukup muak dengan pembodohan dan kecurangan yang terjadi di negeri kita ini. Pemilik-pemilik perusahaanย  maupun orang-orang pemburu cuan tentu tidak akan menyesali tindakannya dalam merusak alam. Mereka malah lebih berpikir bagaimana jabatan dan dapurnya selamat. Kekuasaannya langgeng dan kekayaannya kekal,โ€ ujarmu melunak.

โ€œApa kau pun sudah seperti mereka?โ€ tanyaku dengan nada gemetar dikepung amarah.

"Cukup, bumi tidak butuh tulisan!" bentakmu

"Pohon-pohon itu mati tanpa sempat menyadari kalau pembunuh sebenarnya bukanlah polusi, tetapi manusia. Tuliskanlah!โ€ balasku sambil menunjuk pohon yang telah ditebang. Kau abai saja. Aku melangkah mendekatimu, lalu menarik leher bajumu dari belakang. Kau terpaksa berdiri. Kita bertatapan dalam remang. Beberapa pasang mata mengarah ke kita. Barangkali mereka menanti bibir kita bersentuhan.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: