Panen Sehat adalah Panen yang Barakka' dari Tanah yang Hidup

Klikhijau.com - Pendekatan cara bertani masyarakat Bugis, atau yang sering dikenal dengan kearifan lokal Mappalontara dan Mappalili, memiliki filosofi mendalam yang menyatukan antara pengamatan alam...

Panen Sehat adalah Panen yang Barakka' dari Tanah yang Hidup
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Pendekatan cara bertani masyarakat Bugis, atau yang sering dikenal dengan kearifan lokal Mappalontara dan Mappalili, memiliki filosofi mendalam yang menyatukan antara pengamatan alam (astronomi), etika lingkungan, dan kedaulatan pangan.

Narasi pertanian organik melalui lensa budaya Bugis, kita akan m bahwa kesuburan tanah dan kualitas panen bukan sekadar urusan teknis, melainkan urusan spiritual dan sosial.

Dalam kosmologi masyarakat Bugis, tanah bukan sekadar benda mati. Ia adalah Pertiwi, ibu yang memberi kehidupan. Bertani bagi orang Bugis adalah bentuk komunikasi dengan alam.

Pemahaman tentang kesuburan tanah sebagai kunci panen bagi to matoa ta (Orang tua kita), membawa kita pada kesadaran menjaga adat atau tata krama terhadap bumi yang kita pijak.

Mappalili dan Kembalinya Ekosistem

Ritual Mappalili bukan hanya upacara seremonial, tetapi tanda dimulainya siklus tanam yang serempak. Secara ekologis, tanam serempak adalah cara alami untuk memutus siklus hama tanpa pestisida kimia. Masyarakat Bugis memahami bahwa jika ekosistem terjaga, di mana burung, katak, dan serangga predator tetap hidup, maka tanah akan tetap sehat.

[irp]

Kesuburan tanah dijaga melalui sistem Sipakatau (saling memanusiakan) yang meluas hingga ke alam. Memasukkan bahan kimia berlebih dianggap merusak tatanan harmoni tersebut.

Tanaman yang tumbuh di tanah yang dirawat dengan kasih ini memiliki kualitas yang berbeda, butiran padi yang lebih bernas, aroma yang lebih harum, dan daya simpan yang lebih lama, kualitas yang mulai langka di era pertanian instan saat ini.

Sipulung, Kolaborasi Organik Masa Kini

Salah satu kekuatan utama petani Bugis adalah Sipulung atau berkumpul untuk bermusyawarah. Dalam konteks modern, semangat ini bisa diwujudkan melalui pengolahan limbah organik secara komunal. Misalnya, pemanfaatan kotoran ternak atau pembuatan pupuk cair alami secara gotong royong.

Pendekatan ini membuktikan bahwa pertanian masa lalu tidaklah tertinggal. Sebaliknya, mereka sudah mempraktikkan Circular Economy jauh sebelum istilah itu populer.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Apa tanggapan anda mengenai berita ini

like 0
Like
dislike 0
Dislike
love 0
Love
funny 0
Funny
angry 0
Angry
sad 0
Sad
wow 0
Wow