Sains Lahan Basah dalam Pelukan Kearifan Lokal

oleh -19 kali dilihat
Lahan basah
Lahan basah-foto/Pixabay-JamesDeMers

Klikhijau.comSetiap tanggal 2 Februari, diskursus global mengenai keberlanjutan lingkungan mencapai puncaknya melalui peringatan Hari Lahan Basah Sedunia.

Momentum ini sebagai pengingat atas ditandatanganinya Konvensi Ramsar pada tahun 1971 di Iran. Secara saintifik, lahan basah, yang mencakup rawa, gambut, mangrove, hingga estuari, merupakan ekosistem transisi yang unik, berada di ambang batas antara daratan dan perairan.

Dalam literatur ekologi kontemporer, ekosistem ini sering dijuluki sebagai “ginjal planet” (The Kidneys of the Earth) karena kemampuannya yang luar biasa dalam memfiltrasi polutan, memurnikan air, dan mengatur siklus biogeokimia global.

Namun, di balik angka-angka kapasitas sekuestrasi karbon yang sering diagungkan dalam jurnal perubahan iklim, terdapat dimensi sosiokultural yang sangat dalam, kearifan lokal masyarakat adat yang telah menjadi garda terdepan pelestarian ekosistem ini jauh sebelum istilah “pembangunan berkelanjutan” diformulasikan oleh dunia modern.

KLIK INI:  Perihal Gender dan Perubahan Iklim

Urgensi lahan basah dalam mitigasi krisis iklim terletak pada densitas karbonnya yang masif. Lahan gambut, misalnya, meski hanya menempati sekitar 3% dari total luas daratan bumi, mampu menyimpan cadangan karbon dua kali lebih banyak daripada seluruh hutan di dunia jika digabungkan.

Berdasarkan teori Ecohydrology, stabilitas ekosistem ini sangat bergantung pada keseimbangan neraca air. Ketika lahan basah didrainase untuk kepentingan industri atau monokultur, terjadi proses dekomposisi aerobik yang mengubah cadangan karbon menjadi emisi gas rumah kaca secara eksponensial.

Di sinilah sains bertemu dengan batasannya, pemodelan komputer mungkin bisa memprediksi laju kerusakan, namun ia sering kali gagal menangkap nuansa manajemen mikro yang selama ini dipraktikkan oleh masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan air.

Kearifan lokal (Indigenous Knowledge) bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan sebuah bentuk sains partisipatif yang teruji oleh waktu. Di Indonesia, kita mengenal berbagai sistem pengelolaan lahan basah yang sangat adaptif.

Di Kalimantan, masyarakat Dayak memiliki sistem Beje, yaitu kolam ikan tradisional yang dibuat di lahan rawa untuk menjebak ikan saat air surut, yang secara tidak langsung menjaga retensi air tanah. Sementara di Sumatera Selatan, sistem Lebak Lebung mengatur distribusi hak tangkap ikan secara komunal dengan mempertimbangkan siklus regenerasi spesies.

KLIK INI:  Rehabilitasi Mangrove, sebagai Pengendali Abrasi Laut hingga Atasi Perubahan Iklim

Praktik-praktik ini selaras dengan konsep Social-Ecological Systems (SES) yang dikembangkan oleh Elinor Ostrom, yang menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sumber daya bersama bergantung pada keterlibatan komunitas lokal dan aturan main yang berakar pada budaya setempat.

Masyarakat lokal tidak memandang lahan basah sebagai komoditas linear, melainkan sebagai ruang hidup sirkular yang ritmenya mengikuti pasang surut alam.

Secara mendalam, dalam jurnal Nature dan Science semakin sering menggarisbawahi bahwa efektivitas restorasi ekosistem meningkat secara signifikan ketika pengetahuan tradisional diintegrasikan ke dalam kebijakan teknis.

Konsep ini dikenal sebagai “Two-Eyed Seeing”, sebuah paradigma yang mengajak kita melihat dunia dengan satu mata menggunakan kekuatan sains Barat (analisis data, penginderaan jauh, genetika) dan mata lainnya menggunakan kekuatan pengetahuan adat (observasi fenologis, nilai-nilai etika, dan sejarah ekologi).

Sebagai contoh, petani tradisional di lahan basah sering kali memiliki “kalender alam” yang jauh lebih presisi dalam menentukan masa tanam dan panah dibandingkan satelit, karena mereka membaca tanda-tanda alam seperti pola migrasi burung atau mekarnya vegetasi tertentu yang menjadi indikator kesehatan hidrologi.

Sains dan Kearifan Lokal

Tantangan terbesar saat ini adalah marjinalisasi pengetahuan lokal oleh narasi modernisasi yang teknosentris. Banyak proyek restorasi lahan basah yang gagal karena mengabaikan struktur sosial dan hak ulayat masyarakat.

Dalam perspektif ekonomi lingkungan, penghancuran lahan basah sering kali disebabkan oleh kegagalan pasar dalam menghargai “jasa ekosistem” (ecosystem services).

Pembangunan kanal-kanal besar yang membelah gambut mungkin memberikan keuntungan finansial jangka pendek bagi korporasi, namun ia menciptakan eksternalitas negatif berupa kebakaran hutan dan hilangnya biodiversitas yang biayanya ditanggung oleh masyarakat luas dan generasi mendatang.

Kearifan lokal justru menawarkan antitesis terhadap keserakahan ini melalui prinsip kecukupan dan penghormatan terhadap batas daya dukung alam.

Integrasi antara kearifan lokal dan sains juga sangat krusial dalam menghadapi ancaman kenaikan permukaan laut. Di wilayah pesisir, ekosistem mangrove yang dikelola dengan kearifan lokal terbukti jauh lebih tangguh menghadapi badai dibandingkan infrastruktur beton buatan manusia.

Akar mangrove tidak hanya memecah gelombang, tetapi juga memerangkap sedimen, yang secara alami “membangun” daratan baru untuk mengimbangi kenaikan air laut. Pengetahuan lokal tentang jenis mangrove mana yang cocok ditanam di zona tertentu berdasarkan salinitas air adalah kekayaan intelektual kolektif yang tak ternilai harganya bagi ketahanan iklim global.

Melihat ke depan, peringatan Hari Lahan Basah harus menjadi momentum untuk melakukan dekolonisasi terhadap cara kita memandang alam. Kita perlu menyadari bahwa menyelamatkan lahan basah bukan hanya soal menanam kembali pohon atau menyumbat kanal, tetapi juga soal memulihkan hubungan antara manusia dan air.

Penyelamatan ekosistem ini memerlukan kerangka kerja yang transdisipliner, di mana hidrolog, sosiolog, ekonom, dan pemangku adat duduk di meja yang sama. Literasi mengenai pentingnya lahan basah harus menyentuh kesadaran publik bahwa setiap tetes air yang tersimpan di rawa adalah jaminan bagi ketersediaan air bersih dan udara segar di masa depan.

Sains dan kearifan lokal bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan dua sayap dari burung yang sama. Tanpa sains, kita mungkin kehilangan presisi data untuk mitigasi global, namun tanpa kearifan lokal, kita kehilangan jiwa dan etika dalam mengelola bumi.

Lahan basah adalah saksi bisu sejarah peradaban manusia yang bermula dari pinggiran sungai dan rawa. Dengan menjaga mereka, kita sebenarnya sedang menjaga narasi keberlanjutan spesies kita sendiri. Masa depan tidak akan ditentukan oleh seberapa besar kita bisa menaklukkan alam, melainkan seberapa mampu kita menyesuaikan langkah dengan irama alam yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita selama ribuan tahun.