Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Meresapi Puisi Alam dari Penerima Nobel Sastra, Louise Glück yang Menyentuh

Klikhijau.com – Dalam dunia sastra, prestasi Louise Glück memang keren. Sebelum ia menerima penghargaan  Nobel Sastra—prestasi tertinggi dunia sastra. Gluck telah menerima sederet penghargaan. Peng...

Oleh Tim Redaksi 02 Jan 2022 00:55 3 menit baca
Klikhijau.com – Dalam dunia sastra, prestasi Louise Glück memang keren. Sebelum ia menerima penghargaan  Nobel Sastra—prestasi tertinggi dunia sastra. Gluck telah menerima sederet penghargaan. Penghargaan bergengsi yang diterima perempuan kelahiran 1943 di New York itu, di antaranya   Bingham Poetry Prize (dari Boston Book Review), Pulitzer Prize, William Carlos Williams Award (dari Poetry Society of America), National Book Award in Poetry, hingga  Book Award in Poetry (dari The New Yorker). Pada tahun 2020 lalu merupakan tahun yang cukup bersejarah pula baginya, sebab di tahun itu ia dianugerahi penghargaan Nobel Sastra. Gluck menerima penghargaan tersebut karena puisi-puisinya memiliki keindahan dan pesan yang kuat. Ia mengubah hal-hal yang individual menjadi lebih unirversal. [irp] Gluck juga  dikenal sebagai penyair mitos yang banyak membincangkan tentang kehidupan dan kematian. Namun, di balik itu, Gluck juga menulis puisi dengan aroma alam yang menyentuh.  Penyair Amerika itu memulai debutnya di dunia sastra pada  tahun 1968 melalui karyanya  berjudul Firstborn. Debutnya berjalan lancar dan terus menapaki jalan kesuksesan. Ia menjadi buah bibir d dunia sastra, menjadi  salah satu penyair paling terkemuka dalam sastra kontemporer Amerika. Berikut ini tiga puisi dari Gluck dengan nuansa alam yang indah dan menyentuh:  

Terbang Malam

  Inilah saat kau melihat lagi beri merah di pohon sorbus dan di langit kelam burung-burung terbang malam. Aku jatuh sedih saat terpikir yang mati tak akan melihat mereka lagi— segala tempat kita bersandar ini, seakan sirna. Lalu apa yang bakal menghibur jiwa? Kukatakan pada diri mungkin jiwa tak butuh lagi kesenangan macam ini; mungkin sekadar tiada sudah cukup, sesuatu yang sulit dibayangkan. [irp]

Bunga Iris Liar

  Di ujung deritaku kutemukan pintu. Dengarlah aku: kuingat apa yang kausebut maut. Suara-suara, desing bising, gemerisik dahan pinus. Lalu sunyi. Matahari berkedip lemah pada tanah kering. Betapa berat bertahan saat kesadaran terkubur dalam bumi kelam. Lalu semua usai: yang kautakutkan, menjadi sukma yang tak mampu bicara, berakhir tiba-tiba, tanah yang kaku dan melekuk. Dan yang kuraih ternyata burung-burung yang mendarat di belukar rendah. Kau yang tak ingat perjalanan dari dunia lain kukatakan kepadamu aku bisa bicara lagi: apa pun yang kembali dari keterlupaan akan datang untuk menemukan suara; dari pusat hidupku muncul mata air raya, bayangan biru tua pada samudra biru muda. [irp]

Senja

  Seiring lingsir matahari, petani membakar guguran daun. Apinya tak berarti. Ia kecil dan terkendali, seperti keluarga dikepalai diktator. Tapi saat kobarnya membesar, petani menghilang, tak lagi tampak dari jalan. Dibanding matahari, api di sini berumur singkat, amatiran, dan saat daunnya habis ia pun mati. Dan petani tampak lagi, mengorek abunya. Tapi kematian itu nyata. Seakan matahari purna tugasnya, menghidupkan sawah, lalu memantik api membakar dunia. Ia pun kini boleh tenggelam. Itulah tiga puisi yang beraroma alam dari si penyair mitos, Louise Glück. Selamat menikmati! [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #sastra dan lingkungan #louise glück #nobel sastra #penyair perempuan