Melihat Keindahan Tana Toraja dari Kete’ Kesu

oleh -50 kali dilihat
Melihat Keindahan Tana Toraja dari Kete’ Kesu
Tana Toraja - Foto/Radhif
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Tana Toraja menjadi salah satu tujuan wisata yang sangat populer di Sulawesi Selatan. Selain karena keindahan alamnya yang lestari, Tana Toraja juga dikenal dengan budayanya yang kaya akan ritus dan benda-benda kebudayaan setempat yang begitu khas.

Karena ini pula, ribuan wisatawan mancanegara mengunjungi daerah ini setiap tahunnya.

Mengunjungi Tana Toraja rasanya kurang afdol apabila tak menyempatkan diri mendatangi Desa Kete’ Kesu. Kawasan budaya Kete’ Kesu berada di Makale, Tana Toraja. Daerah ini berjarak 300 kilometer dari Kota Makassar, dapat ditempuh dengan berkendara jalur darat selama kurang lebih 7-8 jam.

Dari Kota Makassar sendiri, ada banyak bus pariwisata yang mengangkut penumpang menuju Tana Toraja. Jikalau pengunjung turun di pusat kota Makale, perjalanan dapat diteruskan menggunakan kendaraan umum seperti mobil angkutan dan ojek.  Jarak Kete’Kesu dari pusat Kota Makale hanya 19 kilometer atau sekitar 30 menit saja.

Kete’ Kesu terkenal dengan beberapa tempat wisata budaya khas Toraja. Di sana pengunjung dapat menikmati bersantai di halaman rumah panggung Tongkonan yang menjadi ikon wisata sekaligus rumah adat Sulawesi Selatan.

Selain itu, Kete’ Kesu terkenal sebagai tempat kawasan perkuburan tua dimana tengkorak-tengkorak manusia bergelantungan di dinding-dinding tebing. Kebayang bagaimana rasanya bersentuhan langsung dengan tulang belulang manusia berumur ratusan tahun.

Mengunjungi kawasan wisata ini bisa dibilang cukup mudah dan terjangkau. Pengunjung hanya perlu membayar biaya masuk sebesar Rp. 10.000 untuk wisatawan lokal dan Rp. 15.000 untuk wisatawan mancanegara. Dari pos masuk, para pengunjung mesti berjalan kaki beberapa meter untuk dapat bersentuhan langsung dengan rumah Tongkonan.

Di ujung jalan yang mendaki, nampak puluhan rumah Tongkonan berjajar rapi saling hadap-hadapan. Rumah Tongkonan terkenal dengan estetika pahatannya di dinding kayu bangunan ini yang membentuk pola-pola tersendiri.

KLIK INI:  Panorama Hijau Tebing dan Pantai Marumasa di Selatan Sulsel

Selain itu, jika diamati bentuk rumah adat ini menyerupai badan kapal yang dipasang terbalik, dihiasi dengan tanduk kerbau di muka rumah.

Tempat ini menjadi spot foto utama para pengunjung. Rasanya cukup sulit untuk mengambil gambar yang tepat kala sunyi. Sebab, nyaris tiada waktu tanpa pengunjung yang mengabadikan momennya disini.

Setelah puas bercengkerama dengan rumah adat Tongkonan, pengunjung dapat langsung membeli pernak-pernik khas Toraja yang tersedia di kios-kios sepanjang jalan menuju kuburan tua.

Di tempat yang menyerupai lorong ini, terlihat beberapa kios penjual souvenir/oleh-oleh. Kios ini meyediakan pernak-pernik khas Tana Toraja, seperti gelang, kalung, baju kaos, gantungan kunci, miniatur rumah tongkonan hingga patung kayu pahatan kecil. Pilihan yang tepat untuk dibawah pulang sebagai oleh-oleh.

Jalan lorong yang dilalui mengantar pengunjung menuju ke kuburan batu. Sebelum itu, ada dua bangunan besar bergaya Tongkonan yang sebenarnya merupakan kuburan.

Ini dapat dikenali dari adanya sebuah bulatan berbentuk seperti gong berwarna merah dengan corak matahari berwarna kuning.  Di atasnya ada beberapa foto klasik sepasang orang tua dengan beberapa foto-foto kecil seperti foto keluarga besar. Tempat ini pun tak luput dari jepretan kamera pengunjung.

KLIK INI:  KLHK Ajak Masyarakat Kedepankan Gotong Royong Sebagai Budaya Bangsa

Sebelah bangunan ini, juga terlihat sebuah bangunan kayu tua. Nampak dua buah patung laki-laki dan perempuan tua yang ditutupi dengan kaca di muka bangunan. Meski berbeda bentuk arsitektur dengan bangunan di sebelahnya, tongkonan ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan mayat satu keluarga besar.

Selain bangunan budayanya, Kete’ Kesu juga menyimpan wisata unik yaitu tulang belulang tengkorak manusia yang dapat ditemui di beberapa tempat di daerah ini.

Untuk bisa bercengkrama dengan masa depan manusia ini, pengunjung diharuskan menaiki beberapa puluh anak tangga menuju gua yang berada di penghujung rute pendakian.

Letak tangga panjang nan menjulang ini berada di hadapan bangunan kuburan berbentuk Tongkonan tadi. Bagi pengunjung yang terbiasa menaiki tangga, banyaknya anak tangga di tempat ini bukanlah penghalang untuk melihat langsung tulang belulang manusia.

Di sebelah kanan tangga, barisan pohon bambu yang menjulang beberapa puluh meter menghiasi mata pengunjung.

KLIK INI:  Awal Tahun, Toraja Dihantui Bencana Tanah Longsor

Menaiki beberapa puluh anak tangga, tepat di tengah jalan mendaki ini mulai terlihat beberapa kotak kayu yang melengket di dinding-dinding bukit. Kayu-kayu ini disanggah oleh tancapan beberapa kayu penyangga di dalam lubang lereng bukit.

Di dalam peti kayu inilah tersimpan beberapa tulang belulang beberapa generasi masyarakat adat Kete’ Kesu.

Untuk lebih jelasnya, pengunjung perlu menaiki beberapa anak tangga lagi untuk melihat langsung jajaran tengkorak kepala manusia yang tertata rapi di atas peti kayu kuburan. Jajaran tengkorak kepala manusia ini terlihat seperti pajangan dinding rumah.

Seolah seperti dilem, peti-peti kayu ini melekat kuat di tembok bukit batu. Meski kayunya nampak mulai rapuh, namun masih begitu kuat menyangga beban tulang belulang manusia ini.

Dari sana, pengunjung telah begitu dekat dengan tujuan puncak jalan tangga ini, yaitu gua yang telah berusia ratusan tahun.

Di dalam gua, tepatnya di lantai, berbaris rapi beberapa tengkorak manusia lengkap dengan tulang bagian tubuh lainnya. Beralaskan kayu, tulang belulang ini seolah sengaja dipajang untuk dapat bersentuhan langsung dengan pengunjung.

Pertemuan langsung dengan masa depan manusia ini menjadi penghujung tur unik ini. Selain Kete’ Kesu, Tana Toraja masih menyimpan beberapa tempat wisata yang tak kalah menariknya dari tempat ini. Mari berharap semoga Tana Toraja dan budayanya tetap lestari meski dimakan zaman.

KLIK INI:  Begini Suasana Bantimurung di Malam Hari Setelah Resmi Dibuka 24 Jam!