Ekofeminisme, Perjuangan Perempuan untuk Keseimbangan Ekologis

oleh -304 kali dilihat
Ekofeminisme, Perjuangan Perempuan untuk Keseimbangan Ekologis
Ilustrasi - Foto/Jalastoria
Azwar Radhif

Klikhijau.com – Pada tahun 1974, 74 perempuan yang didominasi para ibu di Kota Reni, bagian utara India, tengah bersiap menghadapi gempuran buldozer dan mesin-mesin pemotong pohon yang sebentar lagi akan meratakan hutan di tanah mereka.

Tanpa rasa gentar sedikitpun, kaum perempuan ini memilih mengikatkan dirinya di batang pohon, melingkar dan memeluk pohon dengan erat untuk menghalau penebangan hutan. Gerakan ini kemudian disebut chipko yang dalam bahasa India berarti memeluk.

Di tahun yang sama, perjuangan kaum perempuan di Eropa memasuki fase baru setelah gagasan ekofeminisme diperkenalkan Francoise d’eaubonne, seorang feminis dalam karyanya le feminise ou la mort (1974).

Dalam bukunya, Francoise melihat adanya hubungan erat antara penindasan perempuan dengan kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi dari budaya patriarki yang berkembang pesat di Barat. Penindasan perempuan tak bisa dipisahkan dari perusakan terhadap lingkungan hidup yang berlangsung selama beberapa abad silam.

Secara sederhana, Ariel Salleh dalam buku Rahmad K. Dwi Susilo (2014) mengartikan ekofeminisme sebagai “pengembangan dalam pemikiran feminisme yang menyatakan bahwa krisis lingkungan global akhir-akhir ini adalah hasil dari kebudayaan patriarkhal”.

KLIK INI:  Begini Dampak dan Penanganan Sampah Antariksa
Ekofeminisme menentang Androsentrisme

Perempuan dan lingkungan hidup sebagai sebuah kesatuan menjadi objek eksploitasi dalam masyarakat modern yang sistem ekonomi-politiknya dikuasai kaum laki-laki.

Terusirnya perempuan dari aktifitas publik atau disebut domestikasi dianggap sebagai upaya penjinakan patriarki terhadap perempuan untuk memudahkan dominasi, cara pandang ini kemudian disebut androsentrisme.

Kalangan ekofeminis menganggap bahwa androsentrisme atau keterpusatan lelaki selain berhasil mengeksploitasi perempuan juga bertanggungjawab penuh atas kerusakan ekologi. Bagi mereka, sifat patriarki itu identik dengan perilaku merusak, kasar, dan tamak.

Karenanya dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan berkelanjutan, terlebih dahulu masyarakat harus mengesampingkan sifat patriarki ini untuk kemudian melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan, serta mempertimbangkan konsekuensi tindakannya terhadap lingkungan.

Perempuan bagi ekofeminisme memiliki ketergoresan yang erat dengan ekologis. Selain karena kesamaan penindasan, perempuan dan lingkungan hidup secara alamiah memiliki peran yang sama dalam memberi dan merawat kehidupan.

KLIK INI:  5 Alasan Mengapa Wanita Harus Beralih pada Pembalut Kain

Peran ibu dalam melahirkan dan membesarkan anak secara tidak langsung juga dimiliki oleh bumi. Alam atas izin tuhan memberi kehidupan bagi seluruh mahluk yang hidup didalamnya. Secara alamiah, alam juga mampu merawat dirinya sendiri serta merawat kehidupan mahluk dengan memberi sandang, pangan dan papan. Karena ini juga, istilah ibu bumi kerap digaungkan kelompok ekofeminisme dan pemerhati lingkungan.

Meski begitu, penganut ekofeminisme memiliki perbedaan pandangan menyikapi hal ini. Para ekofemisme-alam -sebagai acuan- mempercayai secara tradisional, perempuan memiliki sifat merawat, mengasuh dan intuisi yang terbentuk secara lahiriah dan telah menjadi hakikatnya.

Menurut mereka, sifat-sifat pengasih ini kerap dipandang rendah dalam masyarakat patriarki, tidak lebih baik daripada keuntungan ekonomi.

Susan Griffin dalam buku Feminist Thought (2010) lebih dalam menyinggung hubungan manusia dan tanah sebagai satu kesatuan secara lahiriah. Secara kodrati, manusia khususnya kaum perempuan adalah bagian dari alam yang tak terpisahkan.

Menurut Griffin, “kita mengetahui diri kita terbuat dari tanah dan tanah ini terbuat dari diri kita. Karena kita melihat diri kita sendiri dan kita melihat alam. Kita adalah alam yang melihat alam. Kita adalah alam dalam satu konsep tentang alam. Alam yang menangis. Alam yang berbicara kepada alam tentang alam”.

KLIK INI:  Kebiasaan Ramah Lingkungan yang Patut Ditiru dari Dua Aktivis Perempuan di Bulukumba
Perempuan dan Ekologi

Kedekatan perempuan dan alam tak hanya dipandang secara esensialis. Lebih jauh dari itu, para ibu khususnya dalam sistem keluarga di masyarakat timur sangat bergantung pada kelestarian alam untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Alam memberikan kelimpahan pangan dan sandang untuk kehidupan rumah tangga keluarga. Untuk urusan makanan, mereka akan sangat bergantung pada hasil panen kebun maupun hasil hutan. Tak jauh beda dengan kebutuhan sandang dan obat-obatan dimana masyarakat sekitar wilayah hutan masih menggunakan hasil hutan.

Perempuan, sebelum masa orde baru juga turut serta mengambil peran besar dalam proses pertanian tradisional. Jauh sebelum program revolusi hijau menawarkan bibit super, pupuk kimia dan mesin-mesin modern, perempuan telah bekerja membantu mengolah benih, menanam dan memetik hasil panen. Modernisasi Pertanian bagi Mansour Fakih (2003) telah bertanggung jawab mengusir perempuan dari aktivitas pertanian.

Dalam tradisi masyarakat pesisir misalnya, sebagian besar para ibu memiliki wewenang mengatur urusan rumah tangga. Mereka juga terlibat aktif dalam aktivitas ekonomi seperti pembibitan rumput laut, pembuatan produk dari olahan hasil laut dan beberapa lainnya ikut melaut bersama suami mereka.

Rusaknya lingkungan hidup begitu dirasakan para ibu. Eratnya hubungan perempuan dan alam kerap kali menjadikan mereka garda terdepan dalam merespon masalah-masalah ekologis.

Seperti yang dilakukan para perempuan pulau Kodingareng, yang hingga hari ini masih berjuang mempertahankan kelestarian laut sekitar pulaunya dari aktivitas tambang pasir laut Boskalis yang digerakkan oleh beberapa perusahaan lokal.

Sejak tahun lalu, para perempuan yang didominasi kaum ibu ini tak henti-hentinya melakukan perlawanan melalui demonstrasi dan diskusi untuk menghentikan aktivitas penambangan ini. Bagi mereka, laut bukan lagi sekedar tempat mencari nafkah, tapi juga tempat tinggal bagi mahluk hidup lainnya.

Tak jauh berbeda dengan nasib para perempuan di Bara-barayya yang juga tengah berjuang mempertahankan tanahnya dari ancaman penggusuran. Sejak 2017 silam, perempuan yang didominasi para ibu ini masih bertahan melalui serentetan demonstrasi, menuntut agar hakim berpihak pada keadilan.

Juga untuk perempuan lainnya yang masih berjuang untuk tetap hidup tanpa merusak kehidupan di sekitarnya. Semoga upaya kelestarian lingkungan tetap berlanjut dan kehidupan tetap baik-baik saja.

KLIK INI:  Perempuan yang Berjalan di Gelombang