Meresahkan, Dunia Ratusan Spesies Capung Terancam Tamat
Klikhijau.com – Bagi mereka yang lahir atau melewati masa kanaknya di kampung, khususnya di daerah pegunungan atau persawahan. Kemungkinan besar memiliki kenangan yang indah dengan capung. Capung a...
Klikhijau.com – Bagi mereka yang lahir atau melewati masa kanaknya di kampung, khususnya di daerah pegunungan atau persawahan. Kemungkinan besar memiliki kenangan yang indah dengan capung.
Capung adalah serangga yang menarik dan unik, ia menjadi hiburan untuk diburu lalu ditangkap. Peruntukannya ditangkap pun tidak jelas. Iya hanya untuk hiburan semata.
Serangga ini, rupanya termasuk salah satu serangga yang menjadi indikator lingkungan. Ia hanya akan muncul pada lingkungan yang asri, lingkungan yang tidak tercemar.
Sayangnya, serangga cantik ini semakin terdesak ke tepi kepunahan. Seperti dilansir dari earth ada sebuah temuan dari penilaian global terbaru International Union for Conservation of Nature (IUCN) melaporkan, satu dari enam spesies capung terancam punah.
[irp]
Ancaman itu disebabkan perluasan pertanian yang tidak berkelanjutan. Bukan hanya itu, tetapi juga arus urbanisasi di seluruh dunia.
Kedua hal itu (pertanian dan urbanisasi) jadi penyebab hilangnya rawa-rawa, dan sungai yang mengalir bebas. Padahal rawa dan sungai yang bersih jadi tempat capung biasanya berkembang biak.
Kehilangan tempat berkembang biak menjadikan populasi spesies capung mengalami penurunan yang signifikan di seluruh dunia.
Apa yang ditemukan oleh penilaian global terbaru dari IUCN menjadi alarm buruk bagi dunia serangga yang cukup rentang terhadap perubahan lingkungan.
Penilaian populasi capung dan capung dunia mengungkapkan bahwa 16 persen dari 6.016 spesies terancam punah. Hal itu disebabkan oleh kerusakan yang signifikan dari tempat berkembang biak air tawar mereka.
“Dengan mengungkap hilangnya capung secara global. Pembaruan Daftar Merah hari ini menggarisbawahi adanya kebutuhan mendesak untuk melindungi lahan basah dunia dan kekayaan kehidupan yang mereka sembunyikan. Secara global, ekosistem ini menghilang tiga kali lebih cepat daripada hutan,” kata Dr Bruno, Direktur Jenderal IUCN.
[irp]