Merawat Hutan, Melestarikan Pinisi

Klikhijau.com - Kolaborasi pemuda melahirkan kegiatan Karya untuk Bulukumba bertema "Merawat Hutan, Melestarikan Pinisi". Event ini mengkolaborasikan seni, budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat...

Merawat Hutan, Melestarikan Pinisi
Bacakan Artikel

"Dari kami, semangat kegiatan ini akan terus dilanjutkan di beberapa titik. Komunikasi awal, ada tiga lokasi yang memungkinkan untuk menjadi lokasi penanaman," ungkap Anjar, Relawan Kolaborasi Biru

Industri pinisi di Kecamatan Bontobahari ini ada tiga titik galangan kapal. Di Mandala ria yang berada di Desa Ara dan Desa Lembanna dikelola tiga usaha, di Panrang Luhu yang berada di Desa Bira dikelola tujuh usaha, dan kawasan PPI yang berada di Kelurahan Tanah Beru dan Tanah Lemo dikelola sebelas usaha. Bisnis pembuatan pinisi ini membutuhkan modal besar berbanding lurus dengana keuntungan yang menggiurkan. Tapi tidak ada usaha konkret yang mendukung keberlanjutan pinisi.

[caption id="attachment_32982" align="aligncenter" width="1100"] Penanaman pohon dalam upaya merawat hutan, melestarikan pinisi-foto/Ist[/caption]

[irp]

Butuh waktu lama

Kayu yang umumnya digunakan untuk membuat pinisi itu bitti, ulin atau kayu besi, kandole atau punanga, dan jati. Dalam pembuatan kapal dibutuhkan kurang lebih 100 hingga 200 kubik, tergantung dari ukuran kapalnya. Kayu bitti ini sekarang banyak diperoleh dari Sulawesi Tenggara, termasuk kayu jenis lainnya. Kebutuhan kayu di luar bitti juga banyak di peroleh dari Kalimantan.

"Kebutuhan kayu ini bukan ditanam hari ini lalu dipanen besok tapi butuh waktu belasan sampai puluhan tahun. Makanya kita harus mendorong penanaman sejak sekarang,"

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: