Mengintip Upaya Malaysia ‘Menghidupkan’ Kembali Badak Sumatra dari Kematian

Klikhijau.com – Badak sumatra terakhir di Malaysia mati tahun 2019 lalu. Sejak saat itu, tak ada lagi badak sumatra di Malaysia. Penyebab kematian Iman, nama badak sumatra berjenis kelamin betina i...

Mengintip Upaya Malaysia ‘Menghidupkan’ Kembali Badak Sumatra dari Kematian
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com – Badak sumatra terakhir di Malaysia mati tahun 2019 lalu. Sejak saat itu, tak ada lagi badak sumatra di Malaysia.

Penyebab kematian Iman, nama badak sumatra berjenis kelamin betina itu karena digerogoti kanker. Padahal bukitan harapan diletakkan padanya untuk melanjutkan generasinya.

Sayangnya nasib berpihak lain. Tak ada generasi pelanjut Iman di Malaysia. Ia mati dan siklus badak sumatra berakhir di negeri jiran.

Namun, para ilmuwan Malaysia tak ingin menyerah begitu saja. Mereka yakin bisa menyelamatkan spesies langka dari famili Rhinocerotidae itu.

Cara ilmuwan Malaysia mengembalikan satwa dengan nama latin Dicerorhinus sumatrensis tersebut, yakni dengan menggunakan teknologi sel induk eksperimental yang berasal dari sisa-sisa sel kulit badak yang telah mati.

Para ilmuwan akan menggunakan sel-sel badak yang mati tahun lalu. Tujuannya untuk menghasilkan sperma dan telur.

Diyakini bisa berhasil

Sperma dan telur itu diyakini  akan menghasilkan bayi tabung untuk ditanamkan ke dalam hewan hidup atau spesies yang memiliki hubungan kekerabatan yang cukup dekat seperti kuda.

Rencana ini serupa dengan upaya konservasi badak putih utara di Afrika yang jumlahnya hanya tinggal dua ekor. Hanya saja upaya itu tak mudah, sebab terkendala birokrasi dan diplomasi.

Muhammad Lokman Md Isa, yang merupakan ahli biologi molekuler dari Universitas Islam Internasional Malaysia  sangat yakin usaha tersebut bisa berhasil

"Jika semuanya berfungsi, bekerja dengan baik, dan semua orang mendukung kami, itu bukan hal yang mustahil,” katanya.

Namun menurut Thomas Hildebrandt dan Cesare Galli, ilmuwan yang memimpin penelitian tersebut. Bahkan jika berhasil, kurangnya keanekaragaman genetik pada hewan yang diproduksi dengan cara ini dapat mengancam kelangsungan hidup mereka dalam jangka panjang.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2