Mengintip Upaya Malaysia ‘Menghidupkan’ Kembali Badak Sumatra dari Kematian

Klikhijau.com – Badak sumatra terakhir di Malaysia mati tahun 2019 lalu. Sejak saat itu, tak ada lagi badak sumatra di Malaysia. Penyebab kematian Iman, nama badak sumatra berjenis kelamin betina i...

Mengintip Upaya Malaysia ‘Menghidupkan’ Kembali Badak Sumatra dari Kematian
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Sementara itu, Arief Boediono, ilmuwan Indonesia yang terlibat dalam proses ini di Malaysia berharap kesuksesan proses tersebut dapat memberikan pelajaran untuk membantu perkembangbiakan badak di Indonesia.

“Mungkin butuh lima, 10, hingga 20 tahun, saya tidak tahu,” ujar Arief.

Namun Arief melihat ada peluang untuk berhasil, karena sudah ada beberapa keberhasilan yang melibatkan tikus laboratorium di Jepang,

“Jadi, itu berarti ada peluang," tegasnya.

Keberhasilan usaha seperti yang akan dilakukan pada badak sumatra, pernah dilakukan oleh para peneliti di Jepang.

Mereka berhasil menumbuhkan gigi dan organ lain seperti pankreas dan ginjal menggunakan sel induk embrio dari tikus dan mencit untuk menumbuhkan organ pengganti bagi manusia.

Saat ini hanya ada di Indonesia

Kematian Iman terbilang miris, sebab hanya berselang enam bulan setelah kematian Tam, badak jantan terakhir Malaysia.

Untuk mengembalikan populasi badak, harapannya adalah apa yang tersisa dari iman, yakni sampel kulit, telur, dan beberapa jaringan.

Badak sumatra adalah badak terkecil di dunia dan satu-satunya badak Asia yang bercula dua. Dahulu, badak sumatera hidup bebas di alam liar mulai dari wilayah Himalaya timur di Bhutan, bagian timur India, Myanmar, Thailand, hingga ke Indonesia dan Malaysia.

Perlahan tapi pasti populasinya semakin menurun hingga nyaris masuk ke jurang punah. Ancaman kepunahannya sangat besar akibat perburuan, hilangnya habitat, dan terisolasi dari badak lainnya.

Badak yang juga dikenal dengan nama badak berambut ini kini bertahan hidup dengan populasi yang kecil.

Mereka hidup terpisah-pisah terpisah sehingga menyulitkan mereka untuk menemukan badak lain dan berkembang biak.

Saking semakin sedikitnya, badak yang juga dikenal dengan  nama  badak asia bercula dua ini hanya saat  tersisa 80 ekor badak saja, dan semuanya hidup di wilayah Indonesia.

Jika upaya ilmuwan Malaysia itu berhasil, berarti mereka telah ‘menghidupkan’ satwa satu-satunya spesies yang tersisa dari genus Dicerorhinus tersebut.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2