Menghitung Potensi Nilai Ekonomi Karbon yang Bisa Diperoleh Indonesia

Klikhijau.com – Indonesia merupakan satu negara dengan potensi karbon yang lumayan besar. Karenanya, Indonesia berpotensi memperoleh kompensasi atau carbon trade dari negara-negara maju. Carbon tra...

Menghitung Potensi Nilai Ekonomi Karbon yang Bisa Diperoleh Indonesia
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Indonesia merupakan satu negara dengan potensi karbon yang lumayan besar. Karenanya, Indonesia berpotensi memperoleh kompensasi atau carbon trade dari negara-negara maju.

Carbon trade merupakan kompensasi yang diberikan oleh negara-negara industri maju (penghasil karbon) untuk membayar kerusakan lingkungan akibat asap karbondioksida (CO2) kepada negara pemilik hutan (penyerap karbon).

Mekanisme carbon trading telah menjadi solusi di beberapa negara dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Perhitungan potensi karbon diperlukan dalam memasuki era perdagangan karbon, dimana negara maju akan memberikan bantuan pembiayaan dan teknologi kepada negara berkembangan yang terbukti dapat  mengurangi emisi karbonnya, dengan mekanisme yang dapat diukur, dilaporkan dan diverifikasi, atau Measurable, Reportable and Verifiable (MRV).

Berdasarkan luas kawasan hutan, Indonesia memiliki lahan gambut  seluas 7,5 juta hektare, mangrove 3,1 juta ha, dan hutan seluas tanah kering 180 juta ha yang berkontribusi terhadap penyerapan gas karbon dunia.

Sayangnya luas hutan ini mempunyai kualitas tutupan vegetasi/hutan yang tidak merata akibat adanya kerusakan/pembalakan/perambahan dan kebakaran serta alih fungsi lainnya, sehingga perhitungan potensi karbon harus mewakili keadaan vegetasi dari setiap tipe hutan yang ada.

Perhitungan potensi karbon di Indonesia sudah banyak dilakukan oleh berbagai peneliti, baik pada ekosistem daratan maupun ekosistem perairan/laut. Perhitungan ini berdasarkan sampel di lapangan yang hasilnya dinyatakan dalam potensi ton carbon per hektare, sehingga nilai rill seluruh areal hutan tergantung kualitas tutupan hutan yang sebenarnya di lapangan.

Kemampuan penyimpanan/pengikatan karbon sangat tergantung kepada jenis tumbuhan dan struktur vegetasi yang menyusun tumbuhan pada suatu tipe hutan, atau dengan kata lain tergantung besarnya biomas hutan yang ada.

Dengan demikian banyak sekali hal yang perlu diperhatikan untuk menentukan nilai pengikatan karbon yang akurat. Misalnya perhitungan harus dibedakan antara hutan primer dan hutan sekunder, serta semak belukar maupun padang rumput pada setiap tipe hutan.

Untuk hutan tanaman, mungkin harus dihitung berdasarkan jenis pohon yang ditanam. Untuk penelitan ilmiah, misalnya penelitian mahasiswa S2 atau S3 bahkan kami memisahkan antara biomas pada daerah datar, lereng atas, lereng bawah, kemudian hasil baru dirata-ratakan.

Berikut rangkuman beberapa penelitian yang sempat saya dapatkan dari berbagai laporan tentang potensi simpanan karbon pada berbagi tipe ekosistem hutan/vegetasi di Indonesia.

























































































No.Tipe Hutan/VegetasiSimpanan Karbon  (ton/ha)
   1.Hutan tanaman SengonBagian atas tanah  36,67
   2.Hutan tanaman SengonBagian bawah/lantai 5,32
   3.Hutan tanaman GanitriBagian atas tanah  51,33
   4.Huta tanaman ArenBagian atas tanah  49,06
   5.Hutan tanaman MangiumBagian atas tanah  62,83
   6.Hutan alam konservasi Gede PangrangoBagian atas tanah  275,56
   7.Hutan sekunder muda/belukar di BogorBagian atas tanah 27,78
   8.Hutan produksi primer, SiberutBagian atas tanah 65.96
   9.Hutan produksi bekas tebangan 1 thn, SiberutBagian atas tanah 35,19
  10.Hutan produksi bekas tebangan 5 thn, SiberutBagian atas tanah 48.77
  11.Hutan bukit kapur/karst Maros PangkepBagian atas tanah 43,09
  12.Hutan MangroveBagian atas tanah 86,11
  13.Hutan MangroveBagian bawah/lantai 57,69
  14.Hutan MangroveOrganik/sedimen 359,24
  15.Padang LamunBagian atas 0,94
  16.Padang lamunBagian bawah/lantai 558,35

Tabel di atas tidak memeperlihatkan berapa potensi seluruh areal hutan di Indonesia. Toh kalau kita mengetahui luas kawasan seperti yang tuliskan sebelumnya, misalnya hutan mangrove seluas 3,1 juta ha, maka tidak serta merta dikalikan dengan nilai yang ada dalam tabel karena tidak semua hutan mangrove kita utuh seperti contoh yang disampling.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2