Pulau Lanjukang, Sepetak Harapan yang Mengapung

Klikhijau.com – Pulau Lanjukang, pulau yang masih asing saat pertama kali berkunjung ke sana, Rabu 8 Juli 2020. Melalui informasi di internet, saya menemukan kabar tentang Lanjukang yang kerap dikunju...

Pulau Lanjukang, Sepetak Harapan yang Mengapung
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Pulau Lanjukang, pulau yang masih asing saat pertama kali berkunjung ke sana, Rabu 8 Juli 2020. Melalui informasi di internet, saya menemukan kabar tentang Lanjukang yang kerap dikunjungi turis karena eksotika alamnya yang memukau.

Dari Dermaga Kayu Bangkoa Makassar, perjalan dimulai. Menurut pengemudi Kapal Motor Tempel yang mengantar saya, perjalan dengan speed boat memakan waktu 1,5 jam, namun dengan Kapal Nelayan bisa sampai 3 jam. Di antara hamparan air laut, sesekali saya temui plastik yang mengapung terombang-ambing.

Gemericik air membawa pikiran saya lebih cepat sampai di tujuan. Sebuah pulau yang mungkin akan menyiapkan angan sekaligus kenangan.

Ini tentu saja  tak lebih sendu dari seorang nelayan yang meninggalkan rumah dengan menenteng bekal, yang dalamnya tak hanya serantang nasi. Namun juga ikut terbungkus angan dan ingin. Harapan untuk segera kembali ke rumah dengan hasil tangkapan yang dapat membuat ceria istri yang ditingggalkan.

Pulau Lanjukang termasuk dalam wilayah administrasi Kota  Makassar. Lokasinya sebagai Pulau terluar tak sepopuler nama Pulau Lainnya seperti Samalona dan Lae-Lae yang menjadi destinasi wisata serta brand Restoran ternama di Kota Makassar.

Dari percakapan saya dengan seseorang di penyebarangan Kayu Bangkoa, Pulau Lanjukang dahulunya tergabung dalam wilayah Pemerintahan Kabupaten Pangkep, namun entah karena apa kemudian berganti stempel administrasi pemerintahan.

***

Tepat matahari di atas ubun, perahu tempel yang saya tumpangi tiba di bibir Pantai Pulau Lanjukang. Hamparan Pasir putih, beberapa sampan kecil dan sebuah rumah panggung berukuran cukup besar namun tampak tak berpenghuni berdiri di kejauhan. Rasanya seperti flash back pada film thriller yang gemar saya nonton.

Baru saja turun dari kapal, dua orang lelaki menghampiri, memberi beberapa isyarat pada rombongan, lalu kami mengikut ke sebuah rumah panggung. Belum lagi sempat meletakkan tas, tetiba rombongan warga berdatangan menghampiri.

Saya menyapa mereka dan segera saja duduk bersama mereka yang sudah duduk terlebih dahulu. Beberapa diantaranya mengamati dengan seksama, lainnya berbincang penuh tawa, dan ada pula yang bergeser mendekati.

Salah seorang diantaranya yang kemudian sangat akrab dengan saya adalah Daeng Rijal (36). Hingga kerumunan warga bubar, Daeng Rijal masih tetap tinggal menemani berbincang tentang banyak hal, dari kehidupan di Pulau Lanjukang dan aktivitas orang-orang di Kota Makassar.

Boleh dikata Daeng Rijal dijadikan tokoh oleh warga Pulau Lanjukang, Bapaknya yang seorang imam di pulau dan Pamannya yang seorang RT, seturut memantapkan ketokohannya, juga. Ia banyak menjadi jembatan informasi antara dunia luar Pulau Lanjukang.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2