Mengenang Kopi-Kopi, Kegembiraan Pasca Panen Kopi

Klikhijau.com – Hujan memang lihai mengantar banyak kenangan ke ingatan. Semisal hari Jumat ini, selepas Jumatan, hujan tiba. Tidak deras, tapi cukup ampuh menggali tiap inci kenangan. Hujan yang tak...

Mengenang Kopi-Kopi, Kegembiraan Pasca Panen Kopi
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Hujan memang lihai mengantar banyak kenangan ke ingatan. Semisal hari Jumat ini, selepas Jumatan, hujan tiba. Tidak deras, tapi cukup ampuh menggali tiap inci kenangan. Hujan yang tak deras selalu melahirkan perasaan serba salah. Mau keluar rumah hujan, tinggal di rumah—siap-siaplah dikepung kenangan.

Tak semua kenangan yang hadir mesti ditolak. Ada yang harus diberi waktu dan ruang untuk membiakkan dirinya. Dan tak semua ingatan atau kenangan itu adalah tentang mantan kekasih. Ada banyak di antaranya, yang bisa mengantarkan kita pada satu titik untuk kembali merasa lebih muda atau menyadari, betapa waktu sangat lihai berlari kencang tak terkejar.

Hari Jumat ini, selepas Jumatan. Saya menarik selimut, berniat tidur. Hujan tiba begitu salat Jumat usai. Namun, saya gagal tidur siang. Ada ingatan atau kenangan yang memancar kuat. Membuat saya gelisah. Kenangan itu, adalah kenangan kanak, di tahun 90an. Ketika teknologi modern seperti televisi, bahkan listrik belum masuk di kampung saya, Desa Kindang, Kec. Kindang, Bulukumba.

[irp]

Pada tahun itu, saat usai panen kopi sekitar bulan Agustus. Ada satu hal yang kami—para anak-anak kampung nantikan, namanya kopi-kopi.

Jadi, bagi anak-anak usia sekolah dasar (SD), pasca panen kopi, pesta sesungguhnya baru dimulai. Pada saat itu batas kebun seolah lenyap. Bebas diterabas, meski tetap harus waspada sebab ada saja  pemilik kebun tak terima. Kebun kopinya jadi tempat kopi-kopi.

Tak lepas dari risiko

‎‎Kopi-kopi pernah sangat populer di tahun 1990-an di Desa Kindang.Pada saat itu, komoditi kopi jenis robusta memang "melimpah". Kopi robusta bahkan memiliki nama lokal yang cukup keren; mere. Jadi, sebutannya, kopi mere.

‎‎Kopi jenis ini, di Desa Kindang memiliki batang yang besar. Terkadang satu pohon memiliki batang hingga lima. Cara memetiknya lumayan rumit. Harus menggunakan pengait. Pengaitnya terbuat dari bambu. Umumnya yang digunakan adalah bambu Betung. Tak sembarang, hanya yang memiliki ukuran sebesar lengan balita. Itu pun yang memiliki tangkai pada ujungnya, biasanya yang di sisa adalah dua tangkai pada ujungnya batangnya.

[irp]

‎‎Tangkai bambu jika diperhatikan, memang menarik. Tak tumbuh lurus, tapi silang. Saling membelakangi. Jadinya, sangat cocok untuk dibuat pengait. Di Desa Kindang dan sekitarnya, pengait memiliki nama lokal yang hampir mirip dengan nama Indonesianya itu, pakkai'.

‎‎Pemilihan bukanlah akal-akalan petani kopi. Bambu Betung memiliki tangkai yang besar dan kuat. Sehingga saat digunakan untuk menarik batang kopi, tak mudah patah. Pun bisa disimpan hingga bertahun-tahun.

‎‎Saat panen kopi mere, tak semua buahnya kadang terlihat. Sehingga tak terpetik atau terkadang masih lolo (mentah, belum masak), maka akan disimpan terlebih dahulu. Menunggu hingga layak panen.

‎‎Buah kopi yang luput dari petikan itulah yang jadi sasaran para pakopi-kopi (pelaku kopi-kopi) untuk dipetik dan si pemilik tak akan marah jika ada yang mengambilnya.

[irp]

‎‎Kopi-kopi adalah istilah yang digunakan saat mencari buah kopi yang tak terpetik saat panen. Buah kopi yang tersisa itu, akan dipanjat agar bisa dipetik. Umumnya pakopi-kopi tidak membawa pakkai', yang mereka bawa hanya tempat menampung kopi. Biasanya adalah sarung yang sudah lusuh. Tak terpakai lagi untuk digunakan tidur atau salat atau bepergian.

‎‎Aktivitas kopi-kopi bukan tanpa risiko, sebaliknya, risikonya cukup banyak. Risiko jatuh dari pohon kopi hanyalah salah satunya. Sebab batang kopi terkadang harus dipanjat, lalu menggelantungkan diri. Sehingga kopi bisa doddo (ujungnya menyentuh tanah) agar buahnya bisa dipetik. Pada saat itulah, batang kopi bisa saja patah dan membahayakan pelaku kopi-kopi.

‎‎Risiko lainnya, saat yang punya kebun datang dan tak terima kopinya jadi sasaran tempat kopi-kopi. Pelaku bisa kena marah atau bahkan diburu. Namun, di balik risiko itu, ada keseruan tak terbahasakan saat melakukan kopi-kopi. Itu seperti mencari uang sambil bermain bergelantungan di pohon kopi. Meski kopi yang akan dipetik tak seberapa. Hanya beberapa biji saja.

‎‎Namun, saat ditukar dengan kerupuk atau jajanan lain atau dengan semangkuk sup ala kadarnya. Rasa takut dan ngeri akan hilang. Dan besoknya, pelaku akan kembali melanjutkan aktivitasnya.

[irp]

‎‎Pelaku kopi-kopi ini didominasi oleh anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Mereka tak bergerak sendiri, tapi berkelompok. Sehingga keseruannya lebih matang.

Saat ini, kopi mere merosot. Ruangnya berganti pohon cengkeh dan aktivitas kopi-kopi pun meredup. Panen kopi juga cenderung sepi. Pun jika kopi mere masih sebanyak dan seluas dulu, sangat mungkin anak-anak sekarang akan berpikir untuk melakukannya, mereka akan lebih memilih main game di gawainya sambil menjulurkan tangan meminta pembeli kuota kepada orang tuanya.

‎‎Dan satu hal yang perlu diingat dan dicermati, satu spesies tanaman berkurang atau berganti, maka satu budaya atau kebiasaan juga terancam hilang. Kopi-kopi adalah salah satunya, yang abadi dai kopi-kopi saat ini adalah kenangannya dan itu mengepung saya saat hujan seusai salat Jumat hari ini.

Agar kenangan atau ingatan kopi-kopi tak hilang dalam deru suara game, saya mencoba menuliskannya di sini, sebagai ruang nostalgia yang bisa ditengok-tengok saat hujan tiba membawa banyak kenangan untuk dikenang.

‎Kindang, Jumat, 1 Mei 2026

[irp]