Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Meneguk 5 Puisi M Anis Kaba dari Nyanyian Alam

Klikhijau.com – Shaifuddin Bahrum yang memberi pengantar buku Nyanyian Alam karya M. Anis Kaba mengutarakan, membaca puisi dari seorang penyair adalah membaca pengalaman pengembaraan sang penyair, bai...

Oleh Tim Redaksi 13 Mar 2022 01:06 3 menit baca
Klikhijau.com – Shaifuddin Bahrum yang memberi pengantar buku Nyanyian Alam karya M. Anis Kaba mengutarakan, membaca puisi dari seorang penyair adalah membaca pengalaman pengembaraan sang penyair, baik secara horizontal dalam dunia yang terkotak- kotak oleh ruang dan terpenggal-penggal oleh waktu, maupun pengalaman pengembaraan secara vertikal pada ketarterbatasan ilahi. Anis Kaba menurut Shaifuddin telah berupaya merambah kotak-kotak ruang dan waktu, dan memanjati jeruji-jeruji kuasa ilahi yang tanpa batas. Lelaki kelahiran Limbung, Kabupaten Gowa, 12 April 1942 itu, telah melahirkan sejumlah puisi. satu di antaranya terkumpul dalam buku Nyanyian Alam. Beberapa puisi dalam buku yang diterbitkan oleh Saji Sastra Indonesia tahun 2000 silam itu, memuat puisi yang berkisah tentang alam. Berikut 5 di antaranya: [irp]

Kebimbangan

angin pegunungan, menyapa di ujung malam, aku bimbang berpacu dengan gelisah ke pulau mana berlabuh, bila malam tiba malam yang dingin kudekap dikau, hatiku jua menanti dalam gerimis pada rindu yang selalu menagih gelisah dan keraguan pada satu pusaran membenamkan keputusan di akhir malam kesunyian berembus di sela ranting-ranting pohon di tengah belukar perhitungan tiada akhir belum berjumpa kesejukan desiran semilir mengelus hati jadi berbunga-bunga. Manado, 1985 [irp]

Puisi Pohon Jati

  mengintiplah cahaya senja di balik ranting-ranting pohon tua di lingkaran batang-batang jati membilang usia bermusim-musim dari hutan yang sepi, sendiri gesekan daun-daunmu bernyanyi nyanyian yang tiada henti mengukir masa, takkan pernah kembali menjadi batang jati, sejati. Kendari, 1987 [irp]

Di Manakah Kemerdekaan

merdeka, burung-burung di hutan tapi kehilangan dahan ditebang peladang kemarin petang merdeka, kijang-kijang di rimba namun diburu orang dibawa pulang merdeka, ikan-ikan di lautan dijaring nelayan seberang tadi malam merdeka, merdeka, di manakah kemerdekaan? Makassar, 2000 [irp]

Nyanyian Alam

  semilir di kaki gunung, mengalun runduk pucuk ilalang teduh berkabut bening, ketika awal senja tiba tiada lagi nestapa, tak kutahu bisikan apa belaian angin di rambut jagung beberapa helai bermain di dahi pipi yang putih, seranum langsat mengusik kabut, tiada lagi bercanda kularut dalam hening, tiada terbaca terlindung di balik punggung gunung pada kesepian hutan-hutan jati, di tanah gersang yang kering, dan ilalang juga yang menghadang, rimbunnya bunga-bunga di kebun hati o, dengan kalam segalanya kutulis jadi nyanyian dan bila kutinggal, semua jadi kelam. Makassar, 2000 [irp]

Menolog

- sebuah renungan hijau daun, hijau lumut teduh di dalam sujud hijau tanahku, rimbun hutanku luas lautku, beribu pulauku hatiku jauh dari kemilau sujudku terbenam di laut biru. Makassar, 2000 [irp]
Tentang M. Anis Kaba
Anis Kaba lahir di Limbung, Gowa. Ia pernah kuliah pada Fakultas Sospol, Jurusan Publisistik, Universitas Hasanuddin, Makassar. Ia Meraih gelar sarjana muda pada Fakultas Sospol, jurusan limu Komunikasi di Universitas Sam Ratulangi, Manado, talhun 1978. Ia pertama kali terjun dalam dunia seni tahun 1959 dan mendirikan Organisasi Seniman Muda (ORSENIM) cabangMakassar. Sajak-aknya pernah dimuat pada beberapa media antara lain: Mingguan Express Minggu, Mingguan Pos Makassar, Mingguan Patria, Majalah Bawakaraeng, Harian Fajur, Harian Pedoman Rakyat, Jurnal Galeri Puisi Makassar) dan pada Harian Cenderawasih Pos (Jayapura). Karya-karyanya juga telah dibukukan dalam Antalogi Puisi Ombak Makassar. [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #m. anis kaba #penulis makassar #buku nyanyian alam #penyair sulsel