Meresapi Puisi Alam dari Penerima Nobel Sastra, Louise Glück yang Menyentuh

oleh -39 kali dilihat
Meresapi Puisi Alam dari Penerima Nobel Sastra, Louise Glück yang Menyentuh
Louise Glück-foto/Ist

Klikhijau.com – Dalam dunia sastra, prestasi Louise Glück memang keren. Sebelum ia menerima penghargaan  Nobel Sastra—prestasi tertinggi dunia sastra. Gluck telah menerima sederet penghargaan.

Penghargaan bergengsi yang diterima perempuan kelahiran 1943 di New York itu, di antaranya   Bingham Poetry Prize (dari Boston Book Review), Pulitzer Prize, William Carlos Williams Award (dari Poetry Society of America), National Book Award in Poetry, hingga  Book Award in Poetry (dari The New Yorker).

Pada tahun 2020 lalu merupakan tahun yang cukup bersejarah pula baginya, sebab di tahun itu ia dianugerahi penghargaan Nobel Sastra.

Gluck menerima penghargaan tersebut karena puisi-puisinya memiliki keindahan dan pesan yang kuat. Ia mengubah hal-hal yang individual menjadi lebih unirversal.

KLIK INI:  Pada Lorong di Kotamu

Gluck juga  dikenal sebagai penyair mitos yang banyak membincangkan tentang kehidupan dan kematian.

Namun, di balik itu, Gluck juga menulis puisi dengan aroma alam yang menyentuh.  Penyair Amerika itu memulai debutnya di dunia sastra pada  tahun 1968 melalui karyanya  berjudul Firstborn.

Debutnya berjalan lancar dan terus menapaki jalan kesuksesan. Ia menjadi buah bibir d dunia sastra, menjadi  salah satu penyair paling terkemuka dalam sastra kontemporer Amerika.

Berikut ini tiga puisi dari Gluck dengan nuansa alam yang indah dan menyentuh:

 

Terbang Malam

 

Inilah saat kau melihat lagi
beri merah di pohon sorbus
dan di langit kelam
burung-burung terbang malam.

Aku jatuh sedih saat terpikir
yang mati tak akan melihat mereka lagi—
segala tempat kita bersandar ini,
seakan sirna.

Lalu apa yang bakal menghibur jiwa?
Kukatakan pada diri mungkin jiwa tak butuh lagi
kesenangan macam ini;
mungkin sekadar tiada sudah cukup,
sesuatu yang sulit dibayangkan.

KLIK INI:  Juli Tak Mengirim Penanda

Bunga Iris Liar

 

Di ujung deritaku
kutemukan pintu.

Dengarlah aku: kuingat apa yang kausebut
maut.

Suara-suara, desing bising, gemerisik dahan pinus.
Lalu sunyi. Matahari berkedip lemah
pada tanah kering.

Betapa berat bertahan
saat kesadaran
terkubur dalam bumi kelam.

Lalu semua usai: yang kautakutkan,
menjadi sukma yang tak mampu bicara,
berakhir tiba-tiba, tanah yang kaku
dan melekuk. Dan yang kuraih ternyata
burung-burung yang mendarat di belukar rendah.

Kau yang tak ingat
perjalanan dari dunia lain
kukatakan kepadamu aku bisa bicara lagi: apa pun
yang kembali dari keterlupaan akan datang
untuk menemukan suara;

dari pusat hidupku muncul
mata air raya, bayangan biru tua
pada samudra biru muda.

KLIK INI:  Tanah Duka, Tanah Luka

Senja

 

Seiring lingsir matahari,
petani membakar guguran daun.

Apinya tak berarti.
Ia kecil dan terkendali,
seperti keluarga dikepalai diktator.

Tapi saat kobarnya membesar, petani menghilang,
tak lagi tampak dari jalan.

Dibanding matahari, api di sini
berumur singkat, amatiran,
dan saat daunnya habis ia pun mati.
Dan petani tampak lagi, mengorek abunya.

Tapi kematian itu nyata.
Seakan matahari purna tugasnya,
menghidupkan sawah, lalu
memantik api membakar dunia.

Ia pun kini boleh tenggelam.

Itulah tiga puisi yang beraroma alam dari si penyair mitos, Louise Glück. Selamat menikmati!

KLIK INI:  Siang di Hari Kerja