Mencermati kembali Keterhubungan yang Intim antara Manusia dan Alam

Klikhijau.com - Sejenak berjalan lambat mencermati kembali keterhubungan yang intim, sangat dekat bukan hanya jarak tapi juga saling ketergantungan hingga spiritual, antara manusia dan alam. Mencer...

Mencermati kembali Keterhubungan yang Intim antara Manusia dan Alam
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Sejenak berjalan lambat mencermati kembali keterhubungan yang intim, sangat dekat bukan hanya jarak tapi juga saling ketergantungan hingga spiritual, antara manusia dan alam.

Mencermati kembali hubungan manusia dan alam adalah upaya memulihkan kesadaran bahwa kita tidak sekadar hidup "di atas" bumi, melainkan hidup "bersama" bumi dalam ketergantungan yang mutlak.

Hubungan ini bersifat ontologis dan spiritual, setiap embusan napas yang kita hirup adalah hembusan dari hutan, air dalam nadi kita adalah aliran dari sungai dan detak jantung kita terikat pada ritme ekosistem yang memberi hidup.

Menyadari kedekatan yang intim ini, kita memahami bahwa menjaga alam bukan lagi sekadar pilihan etis, melainkan bentuk pertahanan diri yang paling mendasar demi menjaga keutuhan jiwa dan keberlangsungan eksistensi manusia.

Seiring dengan deru mesin revolusi industri dan gemerlap digitalisasi, jarak antara "kita" dan "bumi" terasa semakin lebar. Kita mulai melihat alam sebagai sesuatu yang berada di luar sana, sebuah latar belakang foto atau sekadar sumber bahan baku.

Alam, Bukan Sekadar Latar, Melainkan Aktor

Sosiologi kontemporer, ada pergeseran besar dalam cara kita memandang pohon, sungai, dan gunung. Alam tidak lagi dianggap sebagai objek pasif yang hanya menunggu untuk digunakan. Para ahli mulai memperkenalkan konsep Agensi Non-Manusia atau Kemampuan benda mati atau makhluk selain manusia (seperti sungai atau iklim) untuk memengaruhi jalannya sejarah dan perilaku manusia.

Bayangkan sebuah pemukiman di pinggir sungai. Bukan hanya manusia yang mengatur sungai dengan membangun tanggul, tetapi sungai itu sendiri "mengatur" bagaimana manusia membangun rumah, apa yang mereka makan, dan bagaimana mereka berinteraksi sosial saat banjir datang. Di sini, alam adalah aktor yang memiliki suara dalam panggung kehidupan.

Salah satu sumbangan terbesar antropologi dalam memahami krisis lingkungan adalah analisis mengenai Dualisme Alam-Budaya. Ini adalah sebuah pola pikir yang memisahkan secara tegas antara dunia manusia (budaya) dan dunia luar (alam dengan segala kompleksitasnya).

Ada masyarakat modern tumbuh dengan keyakinan bahwa manusia memiliki "budaya" yang tinggi, sementara alam hanyalah ruang liar yang harus ditaklukkan. Hal ini sangat berbeda dengan masyarakat adat, misalnya suku-suku di pedalaman Papua, Kalimantan dan komunitas masyarakat adat.

Bagi masyarakat adat Kajang di Bulukumba, hutan adalah "Anrong" (ibu) kerabat dekat. Keyakinan ini merupakan bagian dari hukum adat mereka, yang dikenal sebagai Pattuntung, yang menganggap hutan sebagai sumber kehidupan dan oleh karena itu harus dijaga dan dilindungi dengan sangat ketat.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Apa tanggapan anda mengenai berita ini

like 0
Like
dislike 0
Dislike
love 0
Love
funny 0
Funny
angry 0
Angry
sad 0
Sad
wow 0
Wow