Transformasi Digital Kehutanan 4.0 Harus Diarahkan untuk Ekonomi Hijau

oleh -77 kali dilihat
Bisnis Kehutanan Beralih dari Timber Management ke Forest Management
Ilustrasi hutan produksi/foto-Ist

Klikhijau.com – Perubahan selalu saja terjadi. Tak ada bidang kehidupan yang lepas darinya. Perubahan tak pernah jeda bergerak, khususnya di bidang komunikasi dan informasi.

Kedua bidang tersebut, saat ini sedang melakukan lompatan. Apalagi sejak lahirnya teknologi digital, kelahirannya telah membawa umat manusia dalam lompatan yang jauh ke depan.

Teknologi digital membawa dampak yang hebat pada hampir semua aspek kehidupan dalam era Industri 4.0.

Dampaknya, juga dirasakan oleh pihak kehutanan. Karenanya pemerintahan digital (digital government) menjadi  sebuah keniscayaan yang harus dilakukan. Terutama dalam pengelolaan hutan dan kawasan hutan dengan seluruh potensi sumber daya alamnya (SDA).

KLIK INI:  Cukong dan Kapten Kapal Kayu Illegal di Sultra Segera Disidangkan

Tidak hanya SDA, tetapi  juga manusia dan segenap aset di dalamnya. Dengan tujuannya mengurangi kerusakan hutan dan ekosistemnya ekosistemnya yang berdampak pada produksi dan konsumsi berkelanjutan dengan melindungi planet, hutan, dan bisnis kehutanan.

Memperingati Hari Hutan Internasional 2022, Pusat Penelitian Strategis Kehutanan (PUSKASHUT), Yayasan Sarana Wana Jaya (YSWJ), bekerjasama dengan Pensiunan Kehutanan Indonesia (PENSHUTINDO) dan Koperasi Pegawai Kehutanan (KOPKARHUTAN), menyelenggarakan lokakarya nasional atau seminar nasional.

Acara tersebut diselenggarakan secara hybrid yang dimoderatori oleh Ketua Puskashut YSWJ, Harry Santoso dengan menghadirkan beberapa narasumber.

Acara itu digelar  di Jakarta Kamis, 24 Maret 2022 lalu dengan tema “Transformasi Digital Dukung Inovasi Kehutanan 4.0 Ekonomi Hijau untuk Menyelamatkan Bumi”.

Tujuannya untuk membahas kebijakan, strategi, skenario, capaian implementasi, tantangan, isu dan kendala.

KLIK INI:  Mengintip Satu Abad Tata Kelola Bantimurung
Membutuhkan itikad kuat

Sekretaris Jenderal KLHK, Bambang Hendroyono, membahas pembangunan kehutanan berbasis 4.0. Untuk mitigasi perubahan iklim dan mencapai ekonomi hijau. Dilihat dari kekuatan komparatif Indonesia saat ini, transformasi digital telah memperkuat kerja di tingkat tapak.

“Ketika kita berbicara transformasi digital, membutuhkan itikad kuat menuju Indonesia maju. tTnpa itu kita akan sulit mencapainya. Forum ini memberikan kesempatan bagi kami untuk menunjukkan bahwa komitmen KLHK tentunya dengan Kementerian/Lembaga lain dalam siap untuk bertransformasi,” kata Bambang, yang menjadi salah satu narasumber pada acara tersebut.

Selama ini pemerintah ( KLHK) secara inovatif mengembangkan sistem layanan informasi berbasis aplikasi digital. Di antaranya Sistem Informasi Pengelolaan Hasil Hutan (SIPUHH), Sistem Perpajakan Negara Bukan Pajak Online (SIMPONI) dan Sistem Informasi Pengelolaan Hasil Hutan (SIPUHH), Sistem Informasi Legalitas Kayu (SILK).

Selain itu, kebijakan pengelolaan kehutanan yang komprehensif telah dikeluarkan, dan beberapa kegiatan pengelolaan diterapkan dalam satu izin pemanfaatan dan pengelolaan hutan (PBPH).

KLIK INI:  Pandemi, Perubahan Iklim dan Pentingnya Ketahanan Pangan yang Adaptif
Untuk ekonomi hijau

Diterbitkannya Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 20 No. 20 menegaskan kemajuan di sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya. 98 Tahun 2022 tentang FOLU Net Sink 2030, sebagai tindak lanjut dari Perpres No. 2030. 98 2021.

Tidak hanya itu, tetapi juga sedang mengimplementasikan dokumen NDC dan dokumen LTS – LCCR 2050 yang diperbarui.

“Strategi ke depan adalah pemerintah dan masyarakat Indonesia berkomitmen pada Indonesia Gold 2045, Net Zero Emissions 2060 atau lebih cepat sehingga kita dapat melewati krisis iklim dan keluar dari middle income trap,” kata Bambang.

Sementara itu, Ketua Yayasan Sarana Wana Jaya (YSWJ) Boen Poernama mengatakan pemerintah dan masyarakat Indonesia harus siap untuk maju. Khususnya dalam menghadapi transformasi digital dan Revolusi Industri 4.0 yang sedang berlangsung agar tidak tertinggal dengan yang lain. dan digunakan untuk apa,” kata Boen.

KLIK INI:  Mengungkap Perdagangan Ilegal Tumbuhan Dilindungi ke Luar Negeri

Hal ini juga sejalan dengan Indonesia, sebagai presiden bergilir G20 pada tahun 2022, salah satu topik utama adalah transformasi digital, yang diharapkan dapat mendorong Indonesia untuk mempercepat transformasi digital.

Menurut Boen, transformasi digital sektor kehutanan membutuhkan kesiapan SDM. Dengan pergeseran persepsi dan nilai untuk mendorong perbaikan pengelolaan sumberdaya hutan ke depan dan menjadi pemain pembangunan dalam mendukung akselerasi inovasi kehutanan 4.0.

“Digitalisasi akan menimbulkan disrupsi besar-besaran, dengan dampak positif dan negatif terhadap ekonomi, sosial, lingkungan dan politik. Oleh karena itu, transformasi digital Kehutanan 4.0 harus diarahkan untuk mendukung ekonomi hijau, yaitu pertumbuhan ekonomi yang kuat, ramah lingkungan, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan, pengentasan kemiskinan dan inklusi sosial, berbeda dengan model pembangunan tradisional yang mengandalkan eksploitasi sumber daya alam,” jelas Boen. ***

KLIK INI:  JPIK Menyoal Pernyataan Ditjen PKTL KLHK Atas Penurunan Deforestasi