Pengelolaan Sampah untuk Pengendalian Perubahan Iklim

oleh -63 kali dilihat
Pengelolaan Sampah untuk Pengendalian Perubahan Iklim
Ibu-ibu yang mengelola sampah jadi ecobrick - Foto/Ist

Klikhijau.com – Sampah menjadi persoalan besar di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Dalam hal ini penanganan sampah memerlukan keterlibatan semua pihak.

Karena itu PT Paiton Energy (Paiton Energy) dan PT Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI) melaksanakan pemberdayaan masyarakat melalui program pengelolaan sampah terpadu untuk pengendalian perubahan iklim berupa pengurangan emisi karbon melalui Program Kampung Iklim (Proklim).

Sejak 2014, Perusahaan telah melaksanakan program pengelolaan sampah terpadu, melalui kegiatan bank sampah. Bank sampah merupakan pintu masuk untuk merubah kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.

Perusahaan mengajak masyarakat bertanggung jawab terhadap sisa konsumsi maupun sisa produksi yang mereka hasilkan sehari-hari. Selain itu, mulai 2017, Perusahaan melakukan kampanye pembuatan ecobrick di Kabupaten Probolinggo. Ecobrick adalah solusi sampah plastik yang tidak memiliki nilai ekonomis dan biasanya dibuang sembarangan.

Program ini merupakan kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo dan DLH Kabupaten Situbondo, sebagai bagian dari ProKlim. Perusahaan dan pemerintah (DLH Kabupaten Probolinggo dan Situbondo) secara konsisten menggelar pelatihan pengelolaan sampah plastik menjadi ecobrick dan pembinaan teknis bank sampah untuk mendorong terbentuknya bank sampah di setiap desa di Kabupaten Probolinggo dan Situbondo.

KLIK INI:  Lagi, Gakkum KLHK Wilayah Sulawesi Amankan Dua Aktor Illegal Logging

Saat ini, terdapat 15 bank sampah aktif binaan Paiton Energy dan pemerintah di Kabupaten Probolinggo dan Situbondo. Dengan adanya pembinaan teknis, diharapkan bank sampah di kedua daerah ini akan terus bertambah, baik jumlah, omzet, dan tingkat reduksi sampahnya.

Sementara itu, khusus untuk kampanye ecobrick dilakukan melalui pelatihan pembuatan ecobrick ke komunitas, baik desa, sekolah, pesantren, dan kelompok formal dan informal (arisan PKK, pengajian, dll) di Kabupaten Probolinggo dan Situbondo.

Pada tahun 2019, dibuat bangunan taman ramah lingkungan berupa miniatur candi Jabung dari bahan baku ecobrick dan tanah liat, dilakukan oleh 33 trainer Global Ecobrick Alliance (GEA) se-Indonesia dengan melibatkan 250 relawan dari unsur masyarakat umum & pelajar.

Ecobrick adalah botol berbahan plastik yang diisi sampah plasik hingga penuh dan padat. Tujuan pembuatan ecobrick agar plastik tidak melepaskan CO2 saat terpapar matahari, terbakar, tercecer di sungai dan berakhir di laut sehingga mencemari biosfer.

Ecobrick dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti material bangunan seperti balok atau bata. Ecobrick juga dapat dipakai untuk membuat furniture modular yang bisa dibongkar-pasang, seperti kursi taman.

Chief Financial Officer Paiton Energy, Bayu Widyanto mengatakan program pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Perusahaan menjadi platform untuk memperkuat posisi sektor pengelolaan sampah sebagai pendorong untuk mengendalikan dampak perubahan iklim di tingkat masyarakat. Ini mengurangi emisi karbon dari membakar sampah.

KLIK INI:  Menyelamatkan Hutan, Mewujudkan Sawit Berkelanjutan

“Kegiatan berupa ecobrick dan bank sampah yang dilakukan masyarakat pada lokasi Proklim bisa menjadi contoh nyata pelaksanaan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang sekaligus dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta pengurangan risiko bencana akibat perubahan iklim,” kata Bayu.

Saat ini Paiton Energy dan DLH Kabupaten Probolinggo telah menyepakati kerjasama mewujudkan program Recycling Center yang berlokasi di pasar lama Paiton, Kabupaten Probolinggo. Ini merupakan pengembangan kegiatannya sebelumnya yaitu program pengelolaan sampah terpadu untuk mengatasi persoalan sampah di Kabupaten Probolinggo. Diharapkan nantinya, program Recycling Center dapat dijadikan sebagai proyek percontohan untuk mewujudkan konsep ekonomi sirkular.

Selain itu, melalui program Waste to Energy CSR Project, Paiton Energy bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) sebesar 234 kWh di Laboratorium Parangtopo, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Depok. Ini merupakan upaya Paiton Energy dalam mitigasi perubahan iklim dari sektor sampah.

CFS Manager PT Paiton Energy – POMI Bambang Jiwantoro mengatakan melalui program ecobrick ini diharapkan semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap program-program pengendalian dan pengolahan sampah. Penerima manfaat dari program adalah masyarakat luas.

“Secara prinsip ecobrick bukanlah satu-satunya tujuan, namun yang lebih utama adalah perubahan pola pikir masyarakat dalam menyelesaikan masalah plastik. Dengan demikian pencegahan kerusakan lingkungan akibat plastik dapat dilakukan oleh setiap individu,” kata Bambang.

Gerakan ecobrick yang dilakukan selama ini telah memberikan manfaat yang dibuktikan dengan ditetapkannya Paiton Energy sebagai penerima Indonesia Green Award tahun 2020 dan 2021 untuk kategori penanganan sampah plastik. Gerakan ecobrick membawa masyarakat secara bersama-sama bergerak membersihkan dan menghijaukan lingkungan.

Paiton Energy telah melaksanakan program CSR sejak tahun 2000 yang dirancang setiap tahun, dan dipantau oleh Komite Pengembangan Masyarakat. Program dikategorikan dalam tiga fokus, yaitu mendukung keberlanjutan perusahaan (pembangkit), keberlanjutan sosial ekonomi, serta keberlanjutan energi dan lingkungan.

KLIK INI:  3 Capaian Gemilang Indonesia pada COP Madrid