Wajah Ganda Transisi Energi di TPA Tamangapa, Sapi Diberi Kandang-CCTV dan Pemulung yang Terabaikan

Wajah Ganda Transisi Energi di TPA Tamangapa, Sapi Diberi Kandang-CCTV dan Pemulung yang Terabaikan
Diskusi Kampung di Kantor Yapta-u, Jumat, 6/11/2026. - Foro: Ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Di atas bukit Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Tamangapa, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, keselamatan bernapas dan hak atas ruang hidup diukur dari seberapa bernilainya sebuah komoditas.

Para pekerja yang menghabiskan 7 hingga 12 jam sehari memeras keringat di bawah terik menyengat, bertaruh nyawa di antara ancaman tertusuk limbah tajam dan pekatnya gas metana, justru hidup terlunta-lunta tanpa jaminan sosial maupun kepastian makan esok hari. Sebaliknya, ratusan ekor sapi yang digembalakan liar dulunya di atas tumpukan mikroplastik dan air lindi, berbahan kimia berbahaya justru menikmati tempat berteduh beratap kokoh, pasokan pakan teratur, hingga pengawasan kamera Closed Circuit Television (CCTV) 24 jam.

Kontras mencolok di bentang lahan seluas puluhan hektar ini menjadi cermin paling telanjang mengenai bagaimana prioritas tata kelola lingkungan diibaratkan membalik dunia. Hewan ternak diduga milik elit modal diselimuti privilese kemewahan, sedangkan buruh sampah informal yang menjadi garda terdepan selama puluhan tahun melakukan penyerapan limbah kota justru ditumbalkan atas nama modernisasi teknokratis.

Sejak tiga bulan terakhir, kebijakan baru Pemerintah Kota Makassar mengenai pemilahan dan penataan alur angkut sampah, yang digadang-gadang dari meja birokrasi menuju jargon Makassar Kota Dunia menciptakan gelombang pemiskinan struktural di tingkat tapak. Tanpa dialog rasional, tanpa partisipasi bermakna (meaningful participation), serta tanpa skema pekerjaan pengganti, pendapatan bersih harian pemulung yang semula berkisar Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari anjlok drastis dan berada dalam kondisi yang belum pernah stabil.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2