Mengapa Hujan Makassar Menggenangi Jalan, Bukan Kanal?

Mengapa Hujan Makassar Menggenangi Jalan, Bukan Kanal?
Selepas Hujan di Jalan A.P Pettarani Makassar, -Foto: Ist
Bacakan Artikel
Muhammad Yunus

Mahasiswa Magang dari Prodi Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Klikhijau.com - Selama berbulan-bulan musim kemarau, dasar Kanal di Jalan Inspeksi Kanal Tamangapa Utara, Kelurahan Paccinongang, Kecamatan Somba Opu, tampak meretas kering. Kanal bawah Jembatan Jalan Tun Abdul Razak yang menjadi pembatas lanskap perkotaan ini menyisakan ceruk air yang menyusut drastis.

Ketika hujan deras berdurasi dua jam mengguyur wilayah tersebut pada Selasa akhir Oktober lalu, harapan akan pulihnya volume air di cekungan ekosistem perairan buatan ini tak kunjung terealisasi. Air kanal tetap bertahan pada elevasi rendah. Ironisnya, limpasan air hujan justru beralih memenuhi ceruk-ceruk aspal di pusat kota.

Ruas jalan sekitar kawasan Mall Panakkukang hingga sepanjang koridor utama Jalan AP Pettarani mendadak berubah menjadi genangan tinggi. Pengendara roda dua terpaksa mengangkat barang bawaan agar terhindar dari luapan air banjir local, sebuah pemandangan yang memperlihatkan adanya gangguan fungsi pada sistem tata air perkotaan.

Fenomena pertukaran peran antara kanal dan jalan raya ini menggarisbawahi disfungsi fatal pada tata kelola lingkungan dan drainase mikro di Makassar dan sekitarnya. Kanal yang seharusnya dirancang sebagai penampung utama (retention basin) dan penyalur air menuju muara justru tak terisi optimal, sementara permukaan jalan kedap air berfungsi ganda menjadi wadah penampung limpasan hujan (runoff).

Disorganisasi ekologis ini berakar dari dua persoalan mendasar: penyumbatan sedimentasi serta tumpukan limbah domestik pada saluran drainase pemukiman, dan degradasi kondisi fisik kanal itu sendiri. Sisa-sisa limbah dapur dan sampah rumah tangga yang terbuang bebas ke saluran pembuangan mempersempit celah aliran drainase mikro. Akibatnya, air dari pemukiman terkunci di permukaan jalan sebelum sempat mencapai kanal utama.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan