Memburu Burung di Kepala

Riuh Rindu   kita berkejaran ke laut yang menepi di matamu. ada perahu tertambat di sana. tunggui ombak pasang lalu berlayar ke dalam diri jadi gemuruh gemuruh adalah guru bagi nelayan. me...

Memburu Burung di Kepala
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Riuh Rindu


 

kita berkejaran ke laut yang menepi di matamu. ada perahu tertambat di sana. tunggui ombak pasang lalu berlayar ke dalam diri jadi gemuruh

gemuruh adalah guru bagi nelayan. menuntun mereka menerka antara cahaya atau bahaya
bahaya selalu jadi kawan bagi pelayaran. tanak dalam dada jadi doa panjang kepulangan

kepulangan ke pelukmu, rindu paling riuh. bawa sisa napas ke dalam ombak lautmu

lautmu, nyanyian cinta sejati antara kunang-kunang dan malam pekat. memanggil-manggil penuh gigih, menepi ke matamu. di sanalah rindu tumbuh berimbun berumah di matamu, takdir cinta tak menua

menualah kita dalam amuk rindu, pada rentang peluk yang menolak dingin. selalu ingin
ingin ini, rumah bagi tualang untuk pulang sebagai tulang punggung

Bulukumba, Juli 2024

Berlomba dengan Lebah


 

lebah datang berdengung di telingamu. mencipta peta pulang di kepalamu. saat kau petiki cengkeh yang bermekaran di pucuknya.

kau tepis dengan tangan lebah itu. sambil menelan liur. membayangkan manisnya madu bercampur kuning telur ayam kampung dan sedikit merica

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2