Mata Kunang-kunang

Malam tiba. Kamu terbaring di sampingnya. Lagu Bugis terus mengalun. Terus mengalun. Menampar-nampar sepi. Meramu malam lebih eksotis. Di luar gerimis sedang menyusun rencana mengantar gigil. Daun...

Mata Kunang-kunang
Bacakan Artikel

Kedatanganmu hanya satu tujuan, ingin melihat kunang-kunang. Maka mulailah ia kembali memerhatikan makhluk kecil indah itu. Namun, tidak lagi mudah menemukannya.

Kunang-kunang menyukai tempat gelap dan sepi. Sekarang sekitaran rumahnya riuh kendaraan bermotor dan suara musik.

Apalagi pohon-pohon yang dulunya rindang, tempat kunang-kunang biasa menari telah berubah jadi kursi, rumah panggung, lemari, sofa, spring bed hingga rak buku. Jadinya, tempat berumah kunang-kunang dirampas dengan lembut dan kejam.

โ€œLahadi, kenapa tidak dipadamkan lampunya?โ€ tegurmu.

[irp]

Ia hanya terpaku menatap matamu yang membelalak kepadanya. Ia membayangkan kunang-kunang berumah di sanaโ€”pada matamu.

โ€œAyo padamkan, aku ingin lihat kunang-kunang,โ€ teriakmu. Suaramu sedikit meninggi.

Ia hanya tetap terpaku. Tidak juga menekan saklar lampu itu. Tatapannya kembali beralih dari matamu ke gerimis yang mengagumkan di luar rumah dari jendela.

โ€œKemarilah!โ€ ajaknya.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: