Laut Biru, Laut tanpa Plastik

Klikhijau.com - Di suatu waktu dalam perjalanan ke lokasi penyelaman di pantai barat Kepulauan Selayar, buddyku Akbar menahan tanganku yang hendak membuang puntung rokok ke laut. Menurutnya, puntung r...

Laut Biru, Laut tanpa Plastik
Bacakan Artikel
Masmulyadi

Lawyer dan Konsultan Kebijakan Publik

Masmulyadi

Artikel terbaru dari Masmulyadi (lihat semua)

Klikhijau.com - Di suatu waktu dalam perjalanan ke lokasi penyelaman di pantai barat Kepulauan Selayar, buddyku Akbar menahan tanganku yang hendak membuang puntung rokok ke laut. Menurutnya, puntung rokok yang dibuang ke laut disamping jadi sampah juga dapat membahayakan lingkungan.

Saat itu aku baru belajar menyelam dengan jenjang Open Water Diver (OWD). Jenjang paling awal bagi seorang yang akan mengambil pendidikan penyelaman. Sebagai pemula, aku masih awam dengan berbagai tradisi dan kebiasaan para penyelam itu. Saat ditegur itulah aku menyadari betapa hal-hal kecil seperti puntung rokok itu dapat merusak lingkungan laut tempat kami selama ini menyalurkan hobby menyelam.

***

Saat duduk santai di sebuah kedai kopi di bilangan Panakkukang Mas, sembari menikmati kopi dan pisang goreng kesukaanku, tiba-tiba saja sebuah tayangan video muncul di media sosial milikku. Tayangan tersebut mendokumentasikan sebuah peristiwa operasi bedah. Yang dibedah sebenarnya bukan manusia, tetapi se-ekor paus pilot yang terdampar di Provinsi Songkhla, Thailand Selatan. Proses pembedahan itu dimaksudkan untuk melakukan otopsi mengingat dugaan kematiannya karena mengkonsumsi plastik.

Saat dilakukan otopsi oleh dokter hewan itulah ditemukan plastik dalam perut mamalia laut itu. Plastik itu menumpuk dalam jumlah yang banyak karena tidak bisa diproses oleh pencernaan mamalia itu. Pada akhirnya hewan laut itu sakit dan terdampar ketepian hingga menemuai ajalnya.

Sejumlah laporan media dalam dua tahun terakhir ini mengabarkan peristiwa terdamparnya mamalia laut itu. The Conservation misalnya melaporkan bahwa hewan laut yang terdampar di Aceh dan Selandia Baru yang jumlahnya diperkirakan ratus ekor. Sebagian diantaranya selamat, tetapi juga ada yang tidak bisa tertolong.

Hingga saat ini, tidak banyak studi yang menjelaskan peristiwa tersebut. Para pemerhati mamalia laut menengarai kejadian itu disebabkan oleh ulah manusia. Aktivitas manusia seperti eksplorasi laut menggunakan sonar yang mengganggu navigasi hewan tersebut. Tetapi juga ada yang disebabkan karena pencemaran, seperti sampah plastik yang kemudian di konsumsi oleh paus itu. Penyebab lainnya yaitu karena mamalia laut itu mengalami penyakit yang menyebabkan ia mati.

Apa yang tergambar di video itu mengingatkanku pada peristiwa enam tahun lalu dengan Akbar. Aku bersyukur bahwa perjumpaanku dengan para penyelam membangun attitude bagaimana membangun relasi dengan lingkungan. Khususnya dalam berinteraksi dengan lingkungan laut sebagai tempat kami beraktivitas.

Peristiwa kematian paus pilot di Thailand itu memberikan pelajaran kepada kita semua untuk menjaga lingkungan dari hal-hal terkecil dengan tidak membuang sampah kelaut. Sebab sampah yang kita buang laut dapat menyebabkan kerusakan ekosistem. Data Greenpeace (2017) mengatakan bahwa saat ini terdapat lebih dari 275 juta ton plastik. Total jumlah sampah plastik diperkirakan terus bertambah dan akan melebihi jumlah ikan pada 2050.

Kita tentu masih ingat bagaimana Rich Horner, penyelam asal Inggris yang mempublikasikan rekaman video sampah plastik di akun media sosial miliknya disebuah resort di Pantai Bali beberapa bulan yang lalu. Peristiwa itu sekaligus menjadi catatan bagi kita untuk belajar mencintai lingkungan kita.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2