Kita yang Terbiasa Menelantarkan Sampah Koran Bekas

Klikhijau.com - Ini fenomena tahunan yang terus menggelitik hati. Yah, kita yang seolah tak berdaya menyaksikan sampah koran bekas berserakan usai salat idul fitri. Entah mengapa dengan tanpa meras...

Kita yang Terbiasa Menelantarkan Sampah Koran Bekas
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Ini fenomena tahunan yang terus menggelitik hati. Yah, kita yang seolah tak berdaya menyaksikan sampah koran bekas berserakan usai salat idul fitri.

Entah mengapa dengan tanpa merasa berdosa, kita telah merawat budaya bebal ini hingga mendarah daging. Sesuatu yang amatlah paradoks, sebab kita baru saja merayakan idul fitri yang bermakna kembalinya diri menjadi suci dan bersih.

Pendeknya, menjadi manusia dengan kualitas kemanusiaan dan keberimanan yang lebih baik dari sebelumnya.

Memang, beberapa saat usai salat di sebuah lapangan, jalan raya atau halaman kantor—sampah koran bekas itu akan dibersihkan oleh pihak tertentu. Walau di beberapa tempat dibiarkan serampangan hingga waktu yang lama—tetapi, masalahnya bukan hanya di situ? Ini soal perilaku dan mentalitas kita yang belum move on, primirif dan menjemukan.

Pertama, kita yang selalu menganggap bahwa ada pihak tertentu yang bertanggungjawab di balik masalah kebersihan di ruang publik. Persepsi ini termaktub secara massif dalam benak masyarakat, sehingga begitu melihat ada peluang membuang atau meninggalkan sampah, secara kolektif akan dilakukan dan dibiarkan.

Kedua, kita yang tak menganggap bahwa koran bekas, plastik dan semacamnya bukanlah sesuatu yang kotor dan mengganggu sehingga bisa ditelantarkan di mana saja.

Ketiga, kita belum merasa betapa pentingnya merawat kebersihan dan kepedulian pada lingkungan sebagai sebuah sikap yang mencerminkan pribadi yang beragama dan berbudi pekerti.

Menelantarkan sampah di tempat umum akhirnya menjelaskan siapa kita yang sebenarnya. Kita yang tidak memiliki budaya malu pada diri sendiri, pada lingkungan dan pada Tuhan. Ini perilaku massal yang sangat mengerikan bukan? Kalau di ruang publik saja kita abai terhadap sampah yang notabene kita hasilkan sendiri, apa mungkin kita bisa menyudahi kebiasaan buruk kita buang sampah secara “sembunyi-sembunyi”?

Sampah koran bekas itu jadi saksi bisu tentang siapa kita dan bagaimana kualitas cinta kita pada alam semesta. Kita sebagai sebuah bangsa yang tak peduli kebersihan lingkungan. Data riset Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hanya ada 20 persen masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kebersihan dan lingkungan. Itu berarti, dari 260 juta jiwa, ada sekitar 210 juta jiwa yang terbiasa abai dan tak peduli kebersihan.

Wajar bila jurnal Science sejak 2015 lalu mengungkap bahwa Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia.
Lalu, bagaimana bersikap? Kita membutuhkan aksi kecil yang menginspirasi, semisal terbiasa membuang sampah pada tempatnya atau terbiasa membopong sampah sendiri.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2