Kisah Perjuangan Perempuan Penyelamat Sawah Terakhir di Paddinging

KLikhijau.com - Hari masih pagi ketika kami tiba di rumah Irmawati Daeng So’na (35), lebih akrab memanggilnya Daeng So’na, di suatu waktu pada akhir Oktober 2021. Tepatnya di Desa Paddinging Kabupa...

Kisah Perjuangan Perempuan Penyelamat Sawah Terakhir di Paddinging
Bacakan Artikel

KLikhijau.com - Hari masih pagi ketika kami tiba di rumah Irmawati Daeng So’na (35), lebih akrab memanggilnya Daeng So’na, di suatu waktu pada akhir Oktober 2021.

Tepatnya di Desa Paddinging Kabupaten Takalar, sekira 45 Kilometer dari Kota Makassar. Senyum sumbringah dari aktivis perempuan berambut pendek yang tomboy itu menyambut kami, begitu hangat dan bersahabat.

Kami diajak ke rumahnya, rumah panggung yang pekarangannya dipenuhi tetumbuhan segala rupa. Lalu, di atas lego-lego kami disilakan duduk. Angin berembus sepoi melewati dedaun yang merambat mengitari rumah, suasana desa benar-benar terasa. Tenang dan damai.

Beberapa saat kemudian, kopi hitam tersajikan. Kami seruput sebelum dingin, namun belum juga tuntas ada tawaran menggiurkan dari Daeng So’na, kapurung. Lidah kami menari seketika dengan racca-racca taipa khas Paddinging. Kata Daeng So’na, makanan tradisional berbahan sagu ini dibuat oleh ibu-ibu dari komunitasnya ‘SePAKat’ yang kebetulan juga menggelar pertemuan rutin di hari itu.

Diskusi ringan dimulai setelahnya. Daeng So’na bercerita panjang lebar mengenai progresnya di desa mengawal pemberdayaan perempuan untuk isu pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan. Kami mendengarnya dengan seksama. Perempuan yang dikenal sangat kritis melakukan perlawanan terhadap tambang yang masuk di desanya itu berbicara begitu mengalir dan berapi-api.

Sembari mendengar kisah heroik perempuan di Desa Paddinging, satu persatu ibu-ibu berdatangan. Beberapa diantaranya ikut serta dalam diskusi kami yang semakin menarik, sebagian lagi berkumpul di kebun belakang rumah— sekretariat SePAKat yang juga dijadikan lahan bertani alami.

[irp]

SePAKaT adalah akronim dari Sekolah Perempuan Petani Alami Kabupaten Takalar. Organisasi yang diinisiasi oleh Daeng So’na ini berdiri sejak 1 Januari 2018. Visinya adalah sebagai wadah belajar bersama bagi perempuan pedesaan untuk mengembalikan peran-peran perempuan  dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, berkeadilan dan berkearifan lokal melalui pertanian alami.

SePAKat tak sekadar organisasi biasa,  tapi juga sebagai rumah harapan perempuan desa. Para anggotanya memang mayoritas perempuan tani dan perempuan pesisir di Kabupaten Takalar dari sejumlah desa antara lain dari Desa Paddinging, Desa Tonasa, Desa Ujung Baji, Desa Laikang, Desa Banyuanyara dan Desa Topejawa.

Di SePAKat, para perempuan ini intens berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai praktik-praktik pertanian alami. Mereka mencoba menanam aneka pangan organik yang lebih sehat juga tiada henti menyerukan budaya menanam di pekarangan. Tak sebatas itu, para perempuan di komunitas ini tampak sangat militan—bagi mereka eksploitasi sumber daya alam harus ‘dilawan’.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: