Intensi Bersama Menjaga Laut Nusantara

Klikhijau.com - Satu tahun terakhir ini, Indonesia diperhadapkan pada berbagai ancaman di wilayah laut. Baik ancaman yang terjadi diwilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) maupun di perairan nasional dan...

Intensi Bersama Menjaga Laut Nusantara
Bacakan Artikel
Abdul Motalib Angkotasan

Akademisi, peneliti, dan dosen Ilmu Kelautan di Universitas Khairun (Unkhair), Ternate, Maluku Utara

Klikhijau.com - Satu tahun terakhir ini, Indonesia diperhadapkan pada berbagai ancaman di wilayah laut. Baik ancaman yang terjadi diwilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) maupun di perairan nasional dan lokal.

Konflik di Perairan Natuna Utara masih membara. Praktek illegal fishing menyeruak dimana mana. Masih ada nelayan yang ditangkap karena membom ikan. Ada yang menggunakan potasium sianida untuk menangkap ikan.

Ditambah lagi dengan kebijakan perikanan terukur yang memberikan karpet merah bagi para koorporat nasional dan trans nasional untuk mengeruk sumberdaya laut Nusantara.

Sistem kuota ini perlu ditinjau kembali, pasalnya akan menyebabkan over eksploitasi sumberdaya laut dan mengancam mata pencaharian nelayan kecil.

Laut masih dikotori dengan sampah plastik. Ditambah lagi dengan praktek pembuangan limbah kapal di tengah laut.

Rasa-rasanya laut nusantara sedang tidak baik-baik saja. Butuh aksi bersama untuk menjaga laut nusantara. Dengan menjaga laut, kita dapat menyelamatkan masa depan generasi. Potensi laut nusantara yang maha kaya, harus dipastikan tetap lestari.

Perlu diingat bahwa, sumberdaya laut yang ada adalah titipan dari generasi berikutnya. Lalu, bagaimana cara menjaga laut nusantara? Apa yang harus kita lakukan untuk memastikan sumberdaya laut kita terjaga?

Potensi Laut Nusantara

Profesor Anugrah Nontji dalam bukunya Laut Nusantara menjelaskan secara gamblang beragam potensi yang terkandung di dalam perairan kepulauan Indonesia. Ada potensi ikan (>2000 jenis), non ikan (2525 jenis), mineral dan gas. Punya potensi hidrodinamika laut yang bisa dikembangkan sebagai potensi energi baru terbarukan (EBT).

Misalnya potensi energi arus laut di Selat Lombok. Juga, potensi energi arus pasang surut di Selat Patinti, Maluku Utara yang diungkapkan oleh Franto Novico dan kawan-kawan dari BP3GL Kementrian ESDM.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2