Ini Tempat Sahur Ramah Lingkungan di Bantaeng

oleh -461 kali dilihat
Daun Pisang bekas pembungkus nasi santan
Daun Pisang bekas pembungkus nasi santan
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Bergerak saja ke Selatan Sulsel meski malam telah menua. Jika kamu melewati Kabupaten Jeneponto, yang dianggap Walikota Makassar, Dannyy Pomanto, cocok menjadi Ibu Kota negara Indonesia. Usah kamu khawatir tak menemukan tempat sahur.

Tak terlalu jauh dari perbatasan Jeneponto-Bantaeng, tepatnya di dekat pom bensin pertama   sebelum pusat kota Bantaeng, warung makan berjejer menyambut mereka yang perutnya keroncongan.

Ini kisah saya kemarin

Sebungkus nasi dibalut daun pisang hijau segar tersaji di depan saya. Rasa lapar siang itu, Minggu, 5 Mei 2019 telah merongrong perut.

KLIK INI:  10 Hijab Ramah Lingkungan yang Perlu Diketahui Para Hijabers

Di warung-warung tersebut menyajikan dua pilihan makanan, songkolo (nasi ketan) dan nasi santan, harganya murah meriah sepuluh ribu rupiah

Dengan uang berjumlah lima digit,  empat di antaranya “angka” nol itu, kamu  bisa menikmati nasi santan yang ramah lingkungan dengan lauk  sepotong ikan goreng yang renyah.

Sementara sayur dan sambalnya disediakan terpisah, kamu bisa menyantapnya sepuas inginmu, bayarnya tetap sama Rp. sepuluh ribu rupiah saja.

Nasi santan, adalah nasi yang dimasak bersama santan kelapa. Untuk hasil yang nikmat seperti nasi santan di warung saya maksud, maka perlu di masak dua setengah jam. Selain rasanya lebih nikmat, juga akan tahan lama.

Nasi santan kreasi warga Bantaeng di warung tersebut mudah dikenali, sebab menggunakan pembungkus daun pisang segar. Daun pisang merupakan pembungkus nasi alami yang ramah lingkungan.

KLIK INI:  Apakah di Masjid Tempat Anda Shalat Jumat Sudah Ramah Lingkungan?

Bukan hanya pembungkusnya yang ramah lingkungan, tetapi juga minuman yang disiapkan, sebab tak menggunakan air kemasan plastik. Kamu akan menuangnya sendiri air ke dalam gelas.

Namun, akan bijak jika menuangnya sesuai kebutuhan minum, jangan menuang terlalu banyak kemudian tak bisa dihabisi, sebab membuang-buang air adalah salah satu perilaku yang tak ramah lingkungan.

Penjual di sana bukan tanpa alasan menggunakan pembungkus daun pisang, sebab aroma nasi lebih wangi, lebih tahan lama, lebih murah serta lebih ramah lingkungan.

Jika pada bulan-bulan biasa, warung di pinggir jalan poros Bantaeng itu akan buka 24 jam, tapi di bulan Ramadan akan buka mulai sore hingga waktu imsak.

“Kami tetap buka selama Ramadan, tapi mulai sore hingga sahur,” ujar salah seorang penjual, tempat di mana saya singgah mengisi perut.

Saya memanggilnya ibu, meski masih terlihat muda. Tapi, di salah satu ruangan—tempat istirahatnya, terlihat ayunan bayi. Bahkan percakapan kami kerap terputus karena ia harus mengayun bayinya.

KLIK INI:  Ello Jello, Gelas Karya Anak Bangsa yang Ramah Lingkungan dan Bisa Dimakan

Informasi darinya bernilai penting, sebab jika kamu bergerak ke selatan Sulawesi Selatan menuju Bulukumba atau Sinjai atau dari kedua kabupaten itu menuju Makassar, usah khawatir tak menemukan tempat buka puasa atau sahur jika perjalanan malam.

“Biasa laku seratus bungkus perhari, namun jika sedang sepi kadang lima puluh bungkus saja, tapi pada bulan puasa tentu tak bisa sebanyak itu yang laku” ujarnya lagi

Oya, nasi santan bisa kamu bungkus, sebab menurut perempuan yang saya panggil ibu itu, nasi santan yang dijual di tempat tersebut bisa tahan hingga dua belas jam jam lebih.

“Agar tak cepat basi, beras harus dicuci bersih, santannya dibiarkan mengeluarkan minyak, dan harus dimasak cukup lama, khususnya saat dikukus” ungkap Ibu itu memberi resep.

Ingin sahur ramah lingkungan, silakan ke warung dekat pom bensin pertama di Bantaeng tersebut jika kamu dari arah Jeneponto.

KLIK INI:  Pela, Pelindung Ponsel yang Ramah Lingkungan